Kamis, 25 Agustus 2011

GAK DIAJAK KE NIKAHAN MAMA DAN AYAH



Biasanya kalau lagi mau tidur,cerita-cerita apa aja sama anak2. Kebetulan dikamar ada foto pernikahanku, besar dan mencolok.
Anakku yang pertama,Zahra,bertanya" Itu foto pernikahan mamah, ya?"
Lalu disambung pertanyaan lanjutan oleh Jasmine (4 tahun). "Itu mamah sama ayah?"
"Iyaaaa.... Itu mamah sama ayah lagi pesta pernikahan. Berdua aja. Anak2 gak ada yang ikut".
Jasmine: "Yaaaaaaaaaa Mamah kok berdua aja sama ayah. Kenapa aku gak diajak?"
Zahra tertawa mendengar komentar adiknya. "Jasmine...jasmine... Kamu ko gak understand sih..."
Lalu jasmine mulai menangis kencang sambil berteriak, "Mamah kok gak sayang sama aku.... Kenapa Mamah pergi gak ajak aku!!!"

Alih2 meredakan tangisannya, aku malah tertawa ngakak. Makin kencang juga Jasmine menangis.
"Jasmine.... Mba Zahra ada dibelakang mamah loh... Jadi gak keliatan.." Kata Zahra.
"Huaaaaaaaaaaa Huaaaaaaaaaa......Mamah kok gitu!!!!!!!", Jasemine makin ngamuk!!
Zahra, sambil tertawa mencoba memberi pengertian pada Jasmine. "Orang itu nikah dulu baru punya anak. Itu kan mamah lagi nikah, jadi belum punya anak..... Jasmine gak understand , Mah"

JAsmine gak peduli dengan keterangan Zahra. Tetap kekeuh nangis dan merasa sedih gak diajak pesta.
Akhirnya setelah reda tawa ngakakku, aku menjelaskan pada Jasmine. "ITu mamah sama ayah sedang menikah. Belum punya anak.Mba Zahra, Jasmine, dan adik Ghifar belum ada, belum lahir."
"Aku belum lahir, Mah?"
Huuuuuffff akhirnya reda juga tangisan Jasmine.

DIDIKAN PADA ANAK: OPTIMISME

Saya suka sekali dengan cerita ini. Didapat dari milis pengajian.  Sengaja saya print sehingga dapat saya , baca berulang kali saat terasa jenuh dan butuh penguatan. Begini ceritanya….
Selesai berlibur dari kampung saya harus kembali ke kota. Mengingat jalan tol yang juga padat , saya menyusuri jalan lama. Terasa mengantuk, saya singgah sebentar  di sebuah restaurant. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia kurang leih 12 tahun muncul di depan.
“Abang  mau beli kue?”, katanya sambil tersenyum. Tangannya segera enyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya.
“Tidak dik, abang sudah pesan  makanan”, jawab saya ringkas. Dia berlalu. Begitu pesanan tiba, saya terus menikmatinya. Lebih krang 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri peanggan lain. Sepasang suami isteri sepertinya. Mereka juga menolak.  Dia berlalu begitu saja.
“Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?”, tanyanya tenang ketika mengampiri meja saya.
“Abang baru saja makan, dik.Masih kenyang  nih”, kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pergi tapi Cuma disekitar restaurant. Sampai disitu ia meletakan bakulnya yang penuh. Setiap yang lalu ditanyanya,”Tak mau beli kue saya bang…pak…kakak…atau ibu” Molek budi bahasanya.
Pemilik reatiran tidak berkeberatan dia keluar masuk restoran menemui pelanggannya. Sambil memandangnya terberit rasa kagum dan kasihan dihati saya melihat  betapa gigihnya ia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.
Setelah membayar makanan dan minuman , saya terus pergi kemobil. Anak itu saya lihat berada agak jauh dideretan kedai yang sama. Saya buka pintu, membetulkan duduk, dan menutup pintu. Belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tad berdiri di tepi mobil. Dia menghadiahkan sebuah senyuman. Saya turunkan cermin, membalas senyumnya.
“Abang sudah kenyang, tapi mungkin abang perlukan kue saya untuk adik-adik abang, ibu, atau ayah abang”, katanya sopan sekali sambil tersenyum. Sekali lagi dia memamerkan kue didalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya.
Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja.  Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,. saya ulurkan padanya.  “Ambil ini, dik. Abang  sedekah. Tak usah abang beli kue itu. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali kaki lima kederetan kedai. Saya gembira dapat membantunya.
Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan mobil. Alangkah terkejutnya saya melihat anak itu mengulurkan uang Rp 20.000,. pemberian saya itu kepada seorang pengemis yang kedua matanya buta. Saya terkejut, saya hentikan mobil, dan memanggil anak itu. “Kenapa bang, mau bli kue kah?” tanyanya.
“Kenapa adik berikan uang  abang tadi pada pengemis itu? Duit itu abang berikan untuk adik”, kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.
“Bang, saya tidak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau tahu saya mengemis. Kata emak kita harus bekerja mencari nafkah karena  Allah. Kalau emak tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, mak pasti marah. Kata mak mengemis pekerjaan orang yang tak berupaya. Saya masih kuat, bang”, katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.
“Abang mau beli semua kah?”, dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu untuk berkata-kata. “Rp 25.000,. saja bang”.
Setelah dia memasukan satu persatu kuenya ke dalam plasti, saya ulurkan Rp 25.000,. Dia mengucapkan terimakasih dan terus pergi.
Hmmmm....cerita yang menarik kan? Banyak hal yang bisa saya ambil dari cerita itu. Yang saya kagumi adalah budi pekertinya. Bersahaja, santun, ramah, dan teguh memegang prrinsip kebaikan. Tidak mengemis meski kesusahan, tidak menghiba meski didera penolakan, tidak mengecam meski  dimarahi. Anak seperti itu pasti dididik dan dibesarkan oleh seorang ibu yang memiliki kebaikan beberapa tingkat diatas anak itu. Pasti ia adalah seorang ibu yang mampu mendidik buah hatinya dengan cara yang bijaksana.
Mampukah saya – kita - mendidik anak yang memiliki EQ yang tinggi? Mampukan saya – kita - memiliki keteguhan, kesantunan seperti itu bahkan melebihinya?
Ok, I am a mother of three. I promise to my self to raise my kids wisely, to keep sane all the time, to appreciate my kids as they are. Oh, and also I am a businesswomen. I have to promise my self to have such persistance, consistence, good seller behavior, and politeness even when my ‘consultant to be’ says no. Keep smiling, keep trying, keep moving!

AKU SAKIT HATI


Ini cerita waktu JAsmine masih di Playgroup. Sekarang sih dia udah TKA. 

Jam 10, anak-anak Playgroup keluar dari kelas.
"Ma....aku main dulu ya.."
Oke deh...gak papa main dulu. Jasmine emang paling suka main di spiderweb dan ayunan. Bersama-temannya , Jasmine bermain di spider web. Lagi bermain peran. Ada yang jadi penolong, ada yang jadi korban (jatuh di jurang). Ada2 aja....
Tiba-tiba, "Huaaaaa....hua.........Huuuuuuuaaaaaaaaaaaaa...." 
Lho...itu kan suara tangisan Jasmine. Ada apa ya? Buru-buru aku menghampiri Jasmine yang sedang menangis dan ditatap oleh teman2nya.
"Ada apa Jasmine?" tanayaku sambil berusaha membangunkan Jasmine.
"Aku didorong, Ma....Hhuaaaaaaa..huaaaaaaaaaa"
"Ada yang sakit?"
Sambil geleng-kepala dan mengusap matanya dan tetap menangis, "engga ada...."
"Bener gak ada yang sakit?"
"Gak ada.... huaaaahahaaaahuaaaaaa.......", Waduh...tangisan kok makin kencang.
"Terus kenapa Jasmine menangis terus?"
"Aku didorong sama Nayara" Sambil terus nangis.
"Terus jatuh?"
"Iya......", Tetap nangis.
"Yang mana yang sakit?"
"Gak ada yang sakit...."menangis lebih kencang.
"Bener nih gak ada yang sakit?"
"Gak ada...tapi aku didonrong aku kesel"
"Oooooo Jasmine menangis karena kesal?"
"Iyaaaaaa....huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa"

"Sakit hati dong.....?" tanyaku sambil tersenyum dan dijawab dengan anggukan kepala jasmine.
Oalah.anakku sayang ....Dia menangis karena SAKIT HATI....
Ada tambahan pembelajaran emosi dihari itu. Sudah besar nanti jangan menangis keras ya kalau sakit hati... Cukup menangis perlahan biar gak terlalu menarik perhatian orang.  Seperti Kata Sapardi Djoko Damono, 'aku ingin menangis lirih saja...."