Saya ciinntttaaaa baget sama Kereta api! Jenis transportasi massal yang membutuhkan waktu tempuh singkat. Coba bandingkan dengan angkot atau bus. Dari stasiun depok menuju stasiun cilebut hanya membutuhkan waktu 20 menit. Tapi kalau naik angkot bisa satu jam 30 menit bahkan dua jam!!!
Itulah sebabnya saya cinttaaaaa banget sama kereta.
Itu kalau kereta api sedang tidak ada masalah. Datang terlambat. Kereta rusak. Rel anjlok. Kebakaran. Atau bocor…
Saya banyak belajar miniatur kehidupan di kereta. Yang kaya ada yang miskin juga ada. Yang alim ada yang lalim juga ada. Yang cakep ada yang jelek juga ada. Yang pelit ada yang royal juga ada. Yang berseni ada yang tidak berseni juga ada. Yang peduli ada yang gak peduli juga ada!
Saya cukup peduli gak sih? Sepulang dari mengajar, dengan tubuh penat dan tenggrokan tersekat, sepertinya saya mendengar isak tangis. Betulkah? Saya dengarkan lagi dengan seksama. BETUL! Ada yang menangis. Kenapa ya? Lhooo akhirnya satu gerbong panik dan ada yang berteriak, “kasih duduk! Ada yang pingsan!” Nah lho!! Yang menangis akhirnya pingsan. Setelah lama dioles minyak kayu putih, akhirnya perempuan dewasa yang cantik itupun terbangun. Sambil sesunggukan ia berkata, “Sa-ya- di—u-sii--ir su-a-mi- sa-ya…”. Ooohhh itu penyebabnya ia menangis dan pingsan. Lalu ia melanjutkan lagi, “saya gak tau mesti pergi kemana!!”. Banyak orang yang kini menatapnya. “Sa—ya- gak- ba-wa- u-ang..” ternyata begitu diusir, ia langsung pergi tanpa membawa uang sepeserpun. Lalu? Hmm lalu ia menangis lagi. Kembali mengatakan tidak punya uang. Dan, kembali pingsan! Jadi pokok permasalahannya uang? Ah, saya tidak sempat mengorek lebih dalam. Stasiun depok sudah didepan mata. Apakah saya tidak peduli?
Coba bandingkan dengan lelaki yang satu ini. Dia duduk manis sementara di depannya ada lansia yang berusaha berdiri tegak menahan goncangan kereta api. Tak lama kemudian, ia pun memejamkan matanya, menyilangkan tangan di dada, dan menyenderkan seluruh punggungnya di sandaran kursi. Oalaaahhh...tidur sungguhan atau pura-pura tidur? Disebelahnya dan disebelahnya lagi dua orang lelaki melakukan hal yang sama. Saya menarik napas dalam-dalam dan berdiri dengan sempurna menahan goncangan kereta. Tak lama kemudian seorang perempuan tengah baya berdiri dan mempersilahkan duduk perempuan lansia tadi. Entah kenapa, seorang dari lelaki itu membuka matanya dengan tetap pada posisi yang sama. Lalu dengan lantang perempuan tengah baya itu berkata, “Pak…pak… udah pak. Ibu itu udah duduk. Bapak tetep merem aja, pura-pura tidur biar gak terlalu malu!!”. Dengan segera lelaki itu memejamkan mataya kembali. Saya tersenyum geli. Ini kereta ekonomi, bung!
Sepeduli apa saya dengan anak-anak yang tiba-tiba datang menghampiri saya, manarik baju saya, dan merengek-rengek kepada saya. “Ka...minta uang kak. Buat makan…” Saya hanya menatap tajam pedanya. Dalam hati saya bertanya-tanya mengenai ibunya, ayahnya, saudaranya. Merekakah yang menyuruh anak itu? Sebegitu miskinnya kah anak itu sampai tidak bisa melakukan apa-apa selain mengemis? Tapi saya menggelengkan kepala. Tapi lagi, anak itu tetap memaksa saya. Sekali lagi saya menggeleng lebih kuat. Mati rasakah saya?
Lalu, siapa yang suka dengan petikan biola, petikan gitar, dan lengkingan harmonika yang sangat menyentuh rasa kesenian saya yang timbul tenggelam di kereta. Saya menikmati itu! Indah sekali. Saya bayangkan The Corrs memainkan semua itu dikereta. Tanpa ragu, saya mengeluarkan uang d-u-a-r-i-b-u untuk mereka. Sangat cinta seni bukan?
Perjalanan depok – cilebut yang singkat ternyata mewarnai hari-hari saya. Mewarnai kehidupan saya. Bahkan mewarnai blog saya. Apa saya jadi mati rasa kelamaan di kereta? Atau jadi lebih peduli? Atau jadi lebih berseni? Anda yang menilai…
Yang jelas kehidupan dikerata bisa juga disandingkan dengan restoran mewah, yang hanya dengan menjentikan tangan maka makanan dan minuman datang. Asyik kan!
