Tiba didepan stasiun! Angkot ini akhirnya sampai juga didepan stasiun Cilebut. Segera aku turun dari angkot hijau ini dan disambut dengan tawa riuh dari seorang perempuan yang berdiri tepat didepan tempatku menjejakan kaki di tanah yang basah. Entah siapa. Bila Handphone yang ditempelkan dikupingnya bisa berbicara, pasti ia akan protes. Sekilas kulihat dandakan yang cukup apik darinya. Rambut sebahu tanpa poni. Wajah tanpa ulasan make up berlebih meski polesan lipstick merah menyala cukup mengganggu keharmonisan itu.
Kulangkahkan kaki ini dengan hati-hati di jalan masuk stasiun kereta. Di jam 7 malam, dengan rintik hujan yang menetes-netes diatas jilbabku, awan cukup gelap tanpa penerangan yang cukup dari bulan, bintang, ataupun lampu jalanan . Tanah yang berlubang-lubang cukup untuk membuat ranjau genangan air yang berwarna coklat. Baunyah cukup menusuk hidung. Hmmmm jangan-jangan bercampur dengan air got atau tumpukan sampah dari pedagang makanan dan buah-buahan. Yaiks! Aku menjinjit-jinjit menghindari ranjau itu meskipun sepatu boots kulit yang kukenakan rasanya cukup menghindari pertemuan antara kakiku dengan ranjau air itu.
Phew… akhirnya sampai didalam stasiun. Dan mataku kini sudah terbiasa dengan gelapnya malam tanpa penerangan dari bulan, bintan, maupun lampu stasiun. Dan kepalaku yang tanpa ditamengi dengan payung juga sudah terbiasa dengan tetasan rintik hujan. Tiket sudah kupegang. Rp 1.500.,! Sepadanlah dengan ranjau air , gelapnya suasana, dan tetesan air hujan.
Untung saja disebrang stasiun cilebut ada beberapa kios yang penerangannya cukup sampai ditempatku berjalan menuju peron yang beratap -- yang mudah-mudahan masih ada sisa bangku untukku. Kulangkahkan kaki ini secepat mungkin. Mataku mulai terbiasa dengan temaramnya suasana. Disisi kiriku beberapa pedagang yang mengangsurkan kerangjang dagangannya dijalanan tampak saling sapa dan membicarakan hasil penjualannya hari ini. Hmmm sepertinya hasilnya cukup untuk mengepulkan dapur mereka esok hari. Beberapa masih mencoba menawarkan dagangannya padaku. Aku menolak halus. Aduh! Bagaimana cara memilih dagangannya digelap seperti ini?
Langkahku semakin mendekati peron stasiun (yang beratap!). Berarti semakin dekat juga kepala dan badan ini untuk terhindar dari serbuan rintik hujan yang semakin kerap. Naungan atap peron cukup mengodaku untuk segera kesana. Semakin dekat, semakin kulebarkan langkah kakiku. Rasanya tidak tahan dengan kegelapan dan basahnya badan ini.
Ah! Ada tempat duduk tersisa. Utunglah! Tempat duduk yang terbuat dari rangkaian besi panjang tanpa cat cukup menghibur penatnya tubuhku. Aroma cilok dari pedagang diarah kananku menuntun mataku untuk memperhatikan kesibukannya melayani pembeli. Tapi tidak cukup menuntunku untuk mencicipi rasanya. Bau gengangan air didepan stasiun masih melekat dihidungku. Rasanya enggan memasukan makanan ditempat seperti ini. Persis disebelah kiriku termangu pedagang salak yang kalah ramai dengan pedagang cilok tadi. Ia asyik menghitung laba hari ini sambil sesekali menghitung jumlah salak dikeranjanngnya.
Dibelakangku berjajar kios-kios seukuran 2x3. Pedangang pulsa, ramuan herbal, Koran, buah, kue, gorengan, dan jepit rambut cukup membantu penerangan diperon stasiun. Tanpa mereka rasanya stasiun ini akan jadi sarang pocong dan hantu. Hiiiii…..
Rel kereta api yang berjarak kurang lebih 50meter dari tempatku duduk membuatku bisa memperhatikan keriuhan penumpang yang turun dari kereta. Disini lebih banyak penumpang yang turun daripada yang naik. Kurasa alasannya karena stasiun selanjutnya alah stasiun Bogor yang merupakan stasiun pemberhentian terakhir. Ramainya penumpang kereta dari arah Jakarta yang turun di stasiun ini meriuhkan para pedagang dari kios dibelakangku untuk mempromosikan dagangan mereka. Dan keriuhan makin bertambah bila yang turun adalah penumpang kereta ekonomi. Tapi akan berkurang bila yang turun adalah penumpang commuter line. “Ah, kalau penumpang komuter mah gak jajan. Uangnya abis buat beli tiket”, begitu alasan yang dikemukakan oleh pedagang.
Mataku kini lebih terfokus kearah kananku. Mencoba melihat-lihat arah kereta dari Bogor yang akan menuju Depok. Kemana gerangan kereta yang kunanti ini? TIba-tiba telingaku menangkap suara isak tangis perampuan. Tapi aku tidak berani menoleh kearah kiriku. Ah, bukannya disebelah kiriku ada pedagang salak? Aih… Mataku menatap sesosok pedangan salah yang ternyata elah berjalan melampaui aku menuju keluar station. Kini posisinya diganti oleh perempuan dengan isak tangis. Samakah dengan yang kemarin? Isakannya semakin keras. Semakin keras juga hatiku untuk menahan diri agar tidak menoleh kearahnya. ‘Huhu….huuuu…. bagaimana iniii….’begitu yang kudengar dari sela isakan tangisnya.
Aduh! Kalau kutengokan kepalaku kekiri apa yang akan terjadi? Haruskah aku menghiburnya? Mendengarkan keluhannya? Meredakan tangisannya?
Lalu terdengar suara lelaki menanyakan alasan perempuan itu menangis. Ini yang bisa kutangkap, “Saya diusir suami. Saya langsung pergi. Gak sempet ngapa-ngapain. Uang saja tidak bawa”. Wah…. Kok sama dengan alasan tangisan perempuan ditempat ini kemarin dan kemarin lagi? Apakah orang yang sama?
Ah… kereta kearah Jakarta datang. Segera kuberdiri menyambut tamu agung itu. Berjalan menuju kereta yang dalam hitungan detik akan berhenti distasiun ini. Kutatap kereta yang semakin mendekat dan kuberanikan hati untuk sedikit menatap perempuan yang terisak tadi. Ternyata perempuan yang berbeda dari yang kemarin dan kemarin lagi. Tapi perempuan yang kuihat ketika aku turun dari angkot. Perempuan yang tadi yang tawanya kuyakin akan diprotes oleh handphone yang menempel dikupingya. Kutabahkan hatiku untuk tidak bertanya ‘mengapa’ kepada perempuan itu. Isakannya cukup menampar dinding telingaku tapi tidak perasaanku. Rintik hujan lebih menggerakanku untuk segera berjalan menuju kereta. Segera kupercepat langkahku menuju kereta sebelum hatiku tergoda lebih jauh untuk berempati bahkan bersimpati padanya. Kehangatan rumah lebih menggodaku daripada keriuhan, kelembaban, bau tak sedap, dan tetesan air, dan isak tangis perempuan di stasiun ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar