Anak itu Rezeki
Inilah kisah yang membuatku merasa bahwa Allah memberikan rizki pada umatNya. Bahkan ketika rezki itu tidak dianggap sebagai rezki. Menikah selama bertahun tahun. Tahun pertama dilalui tanpa anak. So far so good. Tahun kedua kembali tanpa kehamilan Rumah mulai terasa sepi. Tahun ketiga, mari ke dokter kandungan. Tahun keemp at, alhamdulillah hamil tapi keguguran dibulan ketiga. Tahun kelima dijalani dengan terapi ke terapi, tanpa hasil. Tahun kelima dimulailah program bayi tabung, hamil selama dua bulan. Lalu kembali hamil selama 4 bulan. Lalu hamil lagi selama 6 bulan. Tapi tanpa ada bayi ditenah-tengan mereka. Lalu tak ada kehamilan lagi. Rumah mulai terasa besaaaar, seppiiii, dan sunyi. Berkali-kali program bayi tabung tidak membuahkan hasil. Lalu kembali hamil.... Setelah menunggu selama 9 tahun, akhirnya ada bayi ditengah-tengah mereka. Alhamdulillah.
Bisakah dibayangkan penantian, harapan, dan biaya yang dikeluarkan?
Oke kalai itu kurang menyentuh. Bagaimana dengan sorang teman yang sudah berusaha selama 10 tahun, ke berbagai ahli kandungan. Berbagai terapi yang dijalani tanpa hasil. Lalu dengan keadaan seorang teman yang berusaha sampai ke Singpur, Hongkong tetap tanpa hasil. Meskipun telah berusaha selama 11 tahun. Juga dengan seorang teman yang pada tahun ke-9 akhirnya menyerah dan tidak lagi melakukan terapi apapun. Dengan perubahan berat badan dan kemulusan wajah karena berbagai terapi, tidak ada hasil yang diharapkan.
"Hah!!! Hamil lagi? Bukannya baru aja lahiran ya?"
Aduuuuh,.... kok beda ya sama tanggapannya atas kehamilan anak pertama. Gamang jadinya. Mual, muntah, pusing, kram, segalanya menyatu sudah. Ditambah komentar orang-orang yang secara implisit atau eksplisit atas kehamilanku ini.
Oke oke.... baiklah. Anakku yang terakhir berumur 9 bulan. Dan kini aku hamil lagi. So what gitu loh.... Aku kan punya suami. Hmmm.....
"Yang sabar dan kuat ya Na...", kata seorang sahabatku sambil memeluk diriku.
Waduh...memangnya terlihat sedihkah diriku dengan kehamilan ini? Terlihat kecewakah? Mana mungkin aku menyedihi apa yang halal bagiku, apa yang seharusnya diriangi oleh para ibu dan bapak, apa yang seharusnya dinanti oleh setiap pasangan.
Kini anakku telah berumur 4 tahun. Pintar, lucu, menggemaskan, ngangeni. Dan ia menjadi satu-satunya anak lelaki dirumah ini. Menjadi sahabat akrab ayahnya Menjadi penambah kebahagaiaan, keramaian, dan keceriaan.
Lalu seorang teman datang. "Mba...dulu gimana perasaanya ketika hamil lagi padahal Jasmine masih bayi?". Kujawab dengan senyum. Gundahkah dia? Benar! Dia sedih karena bayinya masih berumur 8 bulan dan kini hamil lagi. Okeh...aku tahu, tetangga membincangkan, teman membicarakan, saudara bertanya.
"Terima semuanya,mba. Jangan pedulikan apa kata orang. Hamil kan ada suaminya. Kenapa mesti memusingkan perkataan orang?"
Dijawabnya lagi, "Tapi...banyak yang bilang apa gak kasihan sama bayinya?"
Aduuuhh.... siapa yang gak sayang sama bayi, sama bayi sendiri, sama anak sendiri? tapi kalau sudah dikasih sama Allah SWT, masa mau ditolak? Pencegahan sudah. Tapi kalau ternyata tidak berhasil, mau bilang apa? mau marah-marah? Kasihan dong bayi yang diperut kan....
Lalu, nikmat manakah yang akan engkau dustakan?, firman Alah SWT kepada umat manusia.
Manusia memang ada-ada aja yaaaa.... ketika dikasih anak malah sedih. Padahal banyak juga lho yang pengen punya anak. Jadi, mendingan Alhamdulillah atas segala rezki yang telah Allah SWT berikan.
Alhamdulillah....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar