Selasa, 28 Februari 2012

UANG


Minat baca memang ada. Tapi bagaimana dengan penangkapan makna dari bacaaan? Ghifar yang berusia 4 tahun memang senang dibacakan buku oleh kakaknya yang berumur 6 tahun. Kali ini Ghifar memilih buku bejudul, AKu Sayang Bunda.Maka mulailah Jasmine membacakan buku tersebut.

Selesai dibacakan lalu ghifar menunjukkan buku tersebut padaku. “Mama, mau ini. Mobil”
Lhooooo inti ceritanya kan agar seorang anak tidak selalu minta dibelikan ini itu pada bundanya dan memahami bahwa memahami pemanfaatan uang yang tidak hanya untuk mainan.
:-/ confused
 Kenapa berakhir seperti ini??????

“Ma…aku mau beli maninan” Kata Ghifar.
“Ih, kan baru kemarin beli mainan” jawabku . Lalu kutambahkan, “kan kalau beli mainan perlu uang, Ghifar”.
“Mama gak punya uang? Coba lihat dompet mama”
Eiitts sembarangan , mau oprek-oprek dompet. Jelas saja tidak aku perbolehkan.
“Mama ada uang, tapi bukan untuk beli mainan.”
Lalu kulihat buku yang disodorkan ghifar padaku yang katanya mau membeli mobil seperti yang dimainkan oleh Syamil.
“Sini mama bacain lagi bukunya”. Lalu mulailah aku membacakan buku itu selembar demi selembar dengan menekankan pada perkataan bunda Syamil bhwa uang yang dimiliki tidak hanya untuk membeli maianan tetapi untuk banyak keperluan yang lain. Tapi Ghifar bersikeras untuk minta dibelikan mobil-mobilan seperti yang ada dibuku. Lengkap dengan remote control.

“Ghifar… kamu ngerti gak sih?”, X( angryJasmine langsung berkomentar mendengar percakapanku dengan Ghifar. Lalu disambung lagi dengan pertanyaan darinya, “Mah…. Memangnya mamah gak punya uang untuk beli mobil-mobilan? Uang Mamah tinggal sedikit?”
Yaah daripada berpanjang lebar kujawab saja dengan singkat, “Iya”.
“Ooooh gitu ya Ma” kata Jasmine sementara dibelakangnya Ghfar menangis-nangis minta dibelikan mobil-mobilan.
“Mamah bikin uang saja kalo gitu”
“heh? Mana bisa?”
“Mamah gak bisa? Aku bisa. Mamah punya kertas kan? Aku punya pinsil dank rayon. Nanti aku buat uang untuk mamah supaya uang mamah banyak. Jadi mamah bisa beli segalanya”
“yah kan beda sama uang yang berlaku di Negara kita, Jasmine…..”
“Maksud?????”, tanya Jasmine dengan bingung.
Lalu ia pun bergegas mengambil krayon dan pinsil. Kemudian meminta kertas. Lalu dipotong-potongnya kertas itu dan mengajak Ghifar untuk membantunya, “Ayo Ghifar, kita buat uang”
Yasudah lah daripada berisik denger tangisan Ghifar mendingan kubiarkan mereka membuat uang. Ada yang nilai nominalnya Rp 7.000,-, ada yang Rp 3.000,- ada yang Rp 1.000,- dan ada juga yang Rp 500,- 
Biarin deh mereka berkreasi sendiri. Lumayan satu jam menyibukan diri dan berarti satu jam waktu untuk diriku sendiri &lt:-P party . Masalah menerangkan uang, ntar aja deh.

Minggu, 26 Februari 2012

Nikah sekali kok anaknya tiga....

Menyenangkan sekali membuka-buka album foto. beda rasanya dengan melihat foto di komputer. Nah, Jasmine senaaaang sekali lihat-lihat album foto dan memberikan komentar atas foto yang ia lihat. Seperti ini nih, "ini foto pernikahan mama sama ayah kan?"

Kulirik album foto itu dan kujawab ,"ya".
Dibolak-balik lagi album foto itu. Mungkin ingin merekan ingatan atas pernikahan yang tidak pernah ia datangi. hehe.... Ingatkan Jasmine pernah menangis karena tidak ada dia di foto pernikahan mamah dan ayah.
Lalu Jasmine bertanya lagi "Mamah nikah sama ayah berapa kali sih?"
:-/ confused   Nahlo! kok nanyanya begitu?
"Ya sekali dong, emangnya kenapa?"
"Bener sekali? Kok mamah punya anak tiga?"
Wakwaaaaaaw..... Mesti jawab apa nih.
"Mamah nikah sama ayah sekali dan dari yang sekali itu punya 3 anak. Gitu".
"Aneh...."
 Phew  .#:-S whew!.untunglah perhatiannya kembali pada album foto yang lain.

Beberapa minggu kemudian ketika sedang mencari-cari VCD mana yang akan disetel, mata Jasmine tertumbuk pada VCD pernikahan kami.
"Ayah, ini cd apa?"
"Pernikahan ayah dan mamah"
"Ayah nikah sama mamah berapa kali?"
"Sekali"
"Kenapa ayah dan mamah punya anak 3?"
8-> day dreaming Kira-kira apa jawaban ayah........

Kerja Atau Ngajar?

Percakapan di stasiun dengan orang yang tidak dikenal. (Biasaaaaa sambil nunggu kereta yg sering telat)
"Mau kemana,mba?"
"kerja", jawabku
"Kerja dimana?"
"Bogor"
"Kok kerjanya siang?"
"Iya"
"Kerja dimana?"
Mengulang dengan segan, "Bogor"
"Iyaaaa.... maksudnya kerja diperusahaan apa?"
"Bukan perusahaan"
"Terus dimana dong". ... oposeeeeeh mau tauuu ajah cowok satu ini.

"Lembaga Pendidikan", jawabku singkat, padat, dan lugas.
"Jadi apa?"
"Guru"
"Ngajar?"
"Iyyyaa", intonasi menurun tanda tak semangat
"Oooooohhh ngajar yaaa..... Kirain kerja. Tadi katanya kerja!"
Dengan reflek aku menoleh ke si penanya. Menatapnya beberapa detik dengan tatapan takjub sekaligus penuh tanda tanya, lalu kubuka tas, mencari buku, membaca, dan menyibukan diri agar terlihat sibuk.


Lalu beberapa minggu kemudian. Sesuai dengan jadwal mengajar yang aku punya, berpamitan pada anak-anak. cium tangan, cipikacipiki, dan berdadah-dadahan. Lalu seperti biasa kuucapkan beberapa pesan, "Setelah makan siang bobo ya... Kalau tidak hujan boleh main diluar. Main sama mba dulu. Mama mau kerja."
lalu anakku yang berumur 6 tahun bertanya, "Mama mau kerja atau ngajar?"
keheningan beberepa detik pun terjadi.
Lalu kujawab, "Mama mau kerja ngajar"
"Mamaaaah, kan aku nanya.... mama sekarang ini mau berangkat kerja atau ngajar?"
"Ya mama kerjanya ngajar"
"Iya...tapi sekarang ini mama kerja atau ngajar"
"Mamah pekerjaannya ngajar"
"Mamaaaaaah.... Mamah kerja ATAU ngajar?"
Percakapan distasiun melintas dikepalaku. Lalu kujawab singkatm,"Mama mau ngajar"
Senyumpun mengembang diwjahnya. "Nah.... Kalau mamah ngajar boleh. Tapi mamah jangan kerja ya. Nanti pulangnya malam seperti ayah".
OooooooooO ternyata itu masalahnya. Kalau ngajar tidak pulang malam dan tidak nginep. Tapi kalau kerja, pergi pagi pulang malam dan kadang tidak pulang. Baiklah aku mengerti sekarang.

Jadi mengajar itu bukan bekerja lhooo ya.....Jangan lupa!

Rabu, 15 Februari 2012

Hutang Atau Sedekah?

Mana  yang lebih baik memberikan hutang atau sedekah?

Saya pernah melirik kebuku yang -saya cuma asyik baca sinopsisnya- hutang lebih baik daripada sedekah. Hmm saya sebenarnya penasaran dengan isi buku itu. Ntar deh mau hunting di Gramedia. soalnya waktu mau beli itu, klakson penjemput sudah keburu berbunyi. Nah, sekarang mending dari sudut pandang yunniaInna saja dulu... *ehm*

Kenapa ya hutang lebih oke daripada sedekah. Kan katanya sedekah penolak bala.Pernah gak merasakan ketika ada seseorang ditagih pembayaran hutang, lalu ia mengelak, melengos, menolak, bahkan mencak-mencak.
Pernah ada seorang teman yang meminjamkan uang sebesar Rp 100.000,00 pada seorang temannya yang dirumahnya ada 2 mobil, satu motor, bangunan dua tingkat, dan luas bangunan lebih dari 100m2. Tapi entah kenapa setiap kali ditagih ia selalu mengelak. Nanti ya, besok ya, oh iya lupa, ya iya iya, duh segitu aja ditagih, bulan depan ya lagi cekak nih, yaaah nagihnya pas tengah bulan sih kan uangnya udah abis, dan lain sebagainya. Yang pada akhir cerita teman saya OGAH naagih hutangnya ke orang tersebut. Ih, mana tahan nagih hutang Rp 100.000,00 tapi susahnya minta ampun. capede...

Ada lagi nih, hutangnya gak sampe bilangan selembar uang kertas berwarna merah yang bergambar gedung DPR.  Pertama ditagih alasannya karena gak pernah bisa ketemu, ditagih lagi alasannya gak ada recehan, ditagih lagi alasannya gak punya duit, ditagih lagi alasannya uangnya abis, ditangih lagi diam, ditagih lagi tak bersuara. Ya udah males ah nagih lagi. Anggap aja sedekah (eh tapi sedekah kan untuk orang miskin yaaa)

Yang hutangnya "cuma" segitu mungkin alasannya gak mau bayar: lah cuma segitu aja kok ditagih. medit amat sih. Bagaimana kalau hutangnya jutaan?
Alasan gak bisa bayar pasti lebih banyak dan lebih masuk akal dong ya... Seperti belum ada uang, lagi gak ada uang, uang udah abis, tidak ada uang , dan lain-lain. Ada juga nih yang sampe marah-marah: ya ampun tega banget, atau saya kan gak punya uang entar aja napa sih?, ATAU ya udah deh entar juga dibayar kok! Takut amat sih gak dibayar, ATAU saya kan gak punya uang kok ditagih-tagih terus sih?!
Nah lho! Galakan yang punya utang. Bahkan ketika jumlah hutang sudah dikurangi dan dikasih keringanan pencicilan pembayaran , tetap marah-marah. Lho lho lho...

Mungkin kalau yang berhutang adalah orang yang tidak mampu , yang gajinya 1,8 (gajian tanggal 1, habis tanggal 8), penghutang akan lebih menerima penunggakan pembayaran. Tapi bagaimana kalau yang berhutang adalah orang mampu? Punya mobil, motor, masih bisa jalan-jalan tiap weekend, masih bisa belanjabelanji, masih bisa kesana-kesini. Gimana perasaan penghutang?

Nah, mungkin untuk orang yang dengan kategori terkhir ini hutang lebih baik dari pada sedekah lebih tepat nih! Nah!

Senin, 13 Februari 2012

Aku Perempuan....

Hari ini pakai kemeja biru kotak-kotak dan jeans, plus kerudung biru.Jasmine, "mamah terlihat tomboy deh".... haha... Mana tomboy nya ya?

Kemarin teman Jasmine berlari-larian bersama anak lelaki. dan sesekali mempraktekan ilmu tendangan dan pukulannya. Kata Jasmine, "Mah... ternyata Syahda itu tomboy lho...."

Beberapa hari yang lalu Jasmine bermain bola bersama Ghifar dan Zahra. Satu tendangan menghasilkan gol dari Jasmine, maka Ghifar pun kalah. Yang kemudian diikuti dengan tangisan dari Ghifar karena gawangnya kebobolan gol. Lalu kata Jasmine, 'Ma....aku jago ya nendang bolanya. Aku tomboy ya?"

Semester lalu Zahra mengkuti les tekwondo. Dengan bangganya memamerkan teknik tendangan dan baju putih tekwondonya. Lalu komentar Jasmine, "Mah...sepertinya mbak Zahra tomboy ya?". Bahkan ketika guru biola Jasmine menanyakan apakah kakaknya ingin berlatih musik dengan sigapnya Jasmine menjawab, "Mba Zahra itu tomboy. Dia suka tekwomdo, bukan musik".

Bahkan ketika Ghifar terkadang ikut membantuku didapur (aka: n g e r e c o k i n) Jasmine seringkali heran. "Mah, Ghifar itu kan laki-laki. Kenapa dia suka bantuin mamah di dapur sih?"

hmm....jadi berapa takaran untuk menjadi perempuan, lelaki , dan tomboy?

Oalah Jasmine. Dimana sih ukuran tingkat ketomboyan itu?

Guooblloog! BelanjaKokDiInternet

Guooblloog! BelanjaKokDiInternet

Tau gak ada tukang bakso enak di stadela? Stasiun Depok Lama? Biasanya sambil nungguin suami yang datang dari arah Jakarta, aku makan bakso disitu. Namanya entah apa. Ada hiburan tambahan selain TV, yaitu koran. Bukan Kompas atau Tempo yang jelas. Tapi Warta Kota. Lumayan lah.... Tak ada teman ngobrol, koran jadi teman.

Dan di tempat bakso itu pula aku baru tahu kalau acara famili 100 diadakan lagi. Pertanyaan yang diajukan standar aja, nyari jawabannya yang sulit.
Nah, pertanyaannya adalah: Dimana tempat berbelanja yang enak? Gampang tokh  pertanyaannya. Yang sulit adalah menebak jawaban dari orang-orang yang diinterview.

Jawaban pertama, kedua, ketiga, bisa dilalui dengan mulus. Sekarang udah mulai banyak yang salah. Seoran peserta menjawab :INTERNET. Nah! pembawa acara belum memberikan jawaban. Tapi beginilah respon dari pedagang bakso dan pembeli bakso:
"Guuooooobbblllooog!!! Belanja kok di internet"
Phew.... komentarnya kok mengganggu konsentrasiku makan bakso ya.... udah hampir ketelen padahal.
Lalu apa jawaban dari pembawa acara? "tet tot....jawaban salah. Ternyata menurut responden internet bukan tempat belanja yang nyaman"
Ups... mulai lagi deh komentar pemirsa di warung bakso keluar. "TOLOL banget sih tu orang. Masa belanja di internet!Itu namanya pinter tapi goblog"
Lalu ditimpali lagi dengan yang lain, "Tuh kan cuma dikit nilainya.Wong belanja kok di internet......"
Yang lan pun semakin semangat menimpali, " ada juga belanja di WARNEEEET..... Di warnet kan bisa beli minuman.Di internet mana bisa?! DUasssaaAar".

Wew..... Untunglah baksonya enak. Jadi komentar apapun dari pemirsa diwarung, rasanya tidak bisa menahan bakso ini untuk masuk ke kerongkongan ku....

Rabu, 08 Februari 2012

Perasaanku gak enak...



Yup... hari ini janji mau meng-creambath rambut Zahra. Krim untuk creambath sudah masuk dikulkas sejak siang. Tinggal nunggu Zahra pulang sekolah.

"tin!" suara klakson mobil jemputan menandakan Zahra sudah sampai rumah. Alhamdulillah.
"Maaaaah..... Udah beli obat creambath kan?"
haha.... ini dia pertanyaan yang diajukan sejak hari Senin.
"udah..." jawabku.
"Nanti dulu ya Mah.... aku lapar"
Baiklah..kuteruskan saja browsing , surfing, and eating... hehehe...

Kulirik Jam sudah menunjukan pukul lima. Waduh kapan kelarnya creambath kalau gak dimulai sekarang? Hyaaa.... Zahra malah asyik makan rice bubble.
'Ayo Zahra...."
Heehehehehhheeeee...... Senyumnya menandakan ia siap untuk dicrembath. Baiklah salon dadakan segera dibuka disini. Kuingat-ritual yang biasa dijalankan oleh para kapster di salon langgananku. Okeh... Mari mlai ritual itu.

Selesai keramas, kupijat dengan lembut kepala Zahra. Lalu kubebat dengan handuk yang telah di rendam dengan air hangat. "Tunggu 15 menit ya..." ucapku.
Wah kalau disambi surfing gak terasa  lho waktu berjalan dengan cepat..... Jam 6 sudah sekarang.
Segera kugiting Zahra menuju kamar mandi. Hmmmm wangi segar krim ini enaaak sekali. Nyaman dan membuat rileks.
"Enak ya Zahra... Lembut bangetdeh jadi rambutnya. Wangi lagi.."
"Iya Ma", kata Zahra, "Tapi perasaanku gak enak deh ma"
Aku menaikan alis. "hah! gak enak kenapa? Kenapa perasaan Zahra gak enak?"
"Itu mah......aku belum sholat ashar"
astagfirullahal adzim.... 5 menit lagi waktu maghrib datang. Segera kuselesaikan basuhan dikepalanya. "aduh Mamah kira udah sholat disekolah.."

Awalnya mau marah sama  Zahra karena belum melaksanakan sholat Ashar. Tapi di hati ini perasaan bangga, haru, dan senang melebihi segalanya. Alhamdulillah, putri kecilku sudah mulai merasakan perasaan tidak enak meninggalkan sholat, perasaan tidak nyaman karena tidak beribadah kepada Allah. Alhamdulillah ya Allah.... Mudah2an rasa itu tetap adan dan selalu ada didalam hatinya. Aammmiin.....

Segera kukeringkan badannya dan kubantu memakaikan mukena. Sholat kilat pun dimulai.. Tak apalah sholatnya kali ini kilat... :) karena tak lama ia mengucapkan salam, terdengar suara adzan maghrib......
phew....

Anakku Rezekiku

 Anak itu Rezeki

Inilah kisah yang membuatku merasa bahwa Allah memberikan rizki pada umatNya. Bahkan ketika rezki itu tidak dianggap sebagai rezki. Menikah selama bertahun tahun. Tahun pertama dilalui tanpa anak. So far so good. Tahun kedua kembali tanpa kehamilan Rumah mulai terasa sepi. Tahun ketiga, mari ke dokter kandungan. Tahun keemp at, alhamdulillah hamil tapi keguguran dibulan ketiga. Tahun kelima dijalani dengan terapi ke terapi, tanpa hasil. Tahun kelima dimulailah program bayi tabung, hamil selama dua bulan. Lalu kembali hamil selama 4 bulan. Lalu hamil lagi selama 6 bulan. Tapi tanpa ada bayi ditenah-tengan mereka. Lalu tak ada kehamilan lagi. Rumah mulai terasa besaaaar, seppiiii, dan sunyi. Berkali-kali program bayi tabung tidak membuahkan hasil. Lalu kembali hamil.... Setelah menunggu selama 9 tahun, akhirnya ada bayi ditengah-tengah mereka. Alhamdulillah. 
Bisakah dibayangkan penantian, harapan, dan biaya yang dikeluarkan?

Oke kalai itu kurang menyentuh. Bagaimana dengan sorang teman yang sudah berusaha selama 10 tahun, ke berbagai ahli kandungan. Berbagai terapi yang  dijalani tanpa hasil. Lalu dengan keadaan seorang teman yang berusaha sampai ke Singpur, Hongkong tetap tanpa hasil. Meskipun telah berusaha selama 11 tahun. Juga dengan seorang teman yang pada tahun ke-9 akhirnya menyerah dan tidak lagi melakukan terapi apapun. Dengan perubahan berat badan dan kemulusan wajah karena berbagai terapi, tidak ada hasil yang diharapkan.

Tapi bagaimana dengan kisah yang ini?
"Hah!!! Hamil lagi? Bukannya baru aja lahiran ya?"
Aduuuuh,.... kok beda ya sama tanggapannya atas kehamilan anak pertama. Gamang jadinya. Mual, muntah, pusing, kram, segalanya menyatu sudah. Ditambah komentar orang-orang yang secara implisit atau eksplisit atas kehamilanku ini. 

Oke oke.... baiklah. Anakku yang terakhir berumur 9 bulan. Dan kini aku hamil lagi. So what gitu loh.... Aku kan punya suami. Hmmm..... 

"Yang sabar dan kuat ya Na...", kata seorang sahabatku sambil memeluk diriku. 

Waduh...memangnya terlihat sedihkah diriku dengan kehamilan ini? Terlihat kecewakah? Mana mungkin aku menyedihi apa yang halal bagiku, apa yang seharusnya diriangi oleh para ibu dan bapak, apa yang seharusnya dinanti oleh setiap pasangan.

Kini anakku telah berumur 4 tahun. Pintar, lucu, menggemaskan, ngangeni. Dan ia menjadi satu-satunya anak lelaki dirumah ini. Menjadi sahabat akrab ayahnya Menjadi penambah kebahagaiaan, keramaian, dan keceriaan. 

Lalu seorang teman datang. "Mba...dulu gimana perasaanya ketika hamil lagi padahal Jasmine masih bayi?". Kujawab dengan senyum. Gundahkah dia? Benar! Dia sedih karena bayinya masih berumur  8 bulan dan kini hamil lagi. Okeh...aku tahu, tetangga membincangkan, teman membicarakan, saudara bertanya. 
"Terima semuanya,mba. Jangan pedulikan apa kata orang. Hamil kan ada suaminya. Kenapa mesti memusingkan perkataan orang?"
Dijawabnya lagi, "Tapi...banyak yang bilang apa gak kasihan sama bayinya?"
Aduuuhh.... siapa yang gak sayang sama bayi, sama bayi sendiri, sama anak sendiri? tapi kalau sudah dikasih sama Allah SWT, masa mau ditolak? Pencegahan sudah. Tapi kalau ternyata tidak berhasil, mau bilang apa? mau marah-marah? Kasihan dong bayi yang diperut kan....

Lalu, nikmat manakah yang akan engkau dustakan?, firman Alah SWT kepada umat manusia. 
Manusia memang ada-ada aja yaaaa.... ketika dikasih anak malah sedih. Padahal banyak juga lho yang pengen punya anak. Jadi, mendingan Alhamdulillah atas segala rezki yang telah Allah SWT berikan. 

Alhamdulillah....



 

Jumat, 03 Februari 2012


BBM = BENAR BENAR MENGASYIKAN

Mata sesekali melirik ke bb , sambil melirik bacaan Jasmine. Kalau ada kesalahan, tinggal berdehem maka Jasmine akan segera mengulangi bacaaannya.  Gimana cara mengajari seperti ini ya? Cukup keren gak ya? Hehehe……
Sekerang giliran Zahra untuk membaca. Maka kuperintahkan Zahra untuk mengambil bukunya sementara Jasmine mengerjakan tugas yang lain. Tiba-tiba, aku terhenyak dengan perkataan Zahra, “Mah, bbm nya matiin dong.  Bilang sama temen mamah kalo mamah lagi temenin anak-anak belajar…”
O ow…. Terperangah. Terpana. Shock.  Ehm! Tentu saja.  Bukan sekali ini saja sebenarnya protes Zahra mampir didiriku. Beberapa kali ia protes atas keberadaan sebuah benda yang bernama BB ditanganku.  Tapi kenapa ya , kok nyandu banget sih nih BB ditangan!
Kemarin dulu di Taxi Zahra berkomentar, “Ah Mamah bb-an melulu. Bosan tau…” . Eits…bukan mamah dong kalau gak bisa ngeles. Jelasku pada Zahra, “Mamah kan perlu tau ayah ada dimana. Takutnya ayah udah pulang duluk  dan gak bisa masuk rumah”.  Zahra pun langsung memaklumi.
Yang protes Cuma Zahra? Coba lihat nih protesnya Ghifar, si ganteng yang berumur empat tahun.  “Mamah,taro”,  protesnya sambil mengambil BB ku dan menaruhnya diatas meja. Aku tidak bisa berkata banyak kecuali menatap gambar yang tengah dibuatnya diatas buku gambar. “Niiih lihat, gambarku. Bagus kan?”. Dengan senyum selebar mungkin, aku pun memuji hasil gambarnya berupa orang yang sedang berlari mengejar layang-layang dengan latar belakang rumah, pepohonan, dan langit biru. Tak lama kemudian kami pun tenggelam dalam percakapan mengenai gambar itu. Ternyata, more lively than chatting with my friends via bbm. Well, it’s nice. Awesome.
Terus, gimana dengan anak keduaku yang bernama Jasmine. Hmmm tidak kalah protesnya dengan kakak dan adiknya. Ia pun melakukan unjuk rasa atas aksi bbm-an ku. Ia selalu asyik dengan bacaaanya sampai-sampai aku pun didongengi buku cerita. Maka ketika ia sedang mendongengi cerita kepadaku, interupsi suara bip! masuk kegendang telingaku. Membuyarkan konsentrasi atas dongengnya dan koreksian atas bacaannya. Clikclikclik…. Aku pun membalas bbm sahabat. “ Iiiiih Mamaaaaaaah …. Mau dibacain gak sih? Telponnya taro dong!”.  Yiiiihaaaa…. Manisnya teguran itu. Maka tersingkirlah BB dan masuklah dongeng Jasmine kedalam jiwa dan ragaku.
Hanya segitu? Hanya anak-anak saja yang protes. Ha! Ternyata tidak. Suami tersayang memang tidak sefrontal anak-anak dalam memprotes keberadaan BB ditangan dan dihatiku. Tapi niiihhh….sempat satu minggu BB rusak. Tidak ada sinyal apapun kecuali telpon dan sms. Itupun tanpa suara. Jadi entah kapan ada sms dan telpon masuk, aku tidak pernah menyadarinya.  Lalu tiba-tiba kalimat yang menyentakan kalbu pun datang, “Jasmine,Asyik ya BB mamah rusak. Jadi mamah gak sibuk sama BBnya…” Oaaalllaahhh…. Ternyata begitu ya kelakuan diriku. Menginterupsi acara keluarga dan kebersamaan keluarga dengan BB.  Hahahhaa…. Baiklah.
Tapi sampai saat ini, BB yang sehat segar bugar, telah kembali kepangkuanku.  Enak kan balik lagi gaul dengan teman-teman didunia maya. Cuma sebentar doang kok lihat BB dan membalas BB. Kenapa sih kok pada ribut banget ya?
Dengan BB dikantong jalan-jalan sore bersama anak-anak pun masih bisa dilakukan. Sampai akhirnya aku berjumpa dengan seorang teman ditaman bermain perumahanku. Saling tegur dan sapa pun tak terelakan. Obrolan ringan mengalir lancar. Sssst….apalagi dia temanku di BBM. Jadi meskipun tinggal berjauhan rasanya akrab dan dekat sekali. Tapi gak berapa lama ia asyik dengan klikklikklik BB nya. Aku terdiam. Selesai klikklilklik kami pun berbicara lagi. Sampai jeda cukup panjang yang cukup membuatku beranjak meninggalkan bangku taman dan memilih berlari mengejar layangan. Phew….Akhirnya bisa bebas dari Mrs.klikklikklik. Enak aja aku dicuekin. Huh!  Astaga…!!! Jangan-jangan itu yang dirasakan anak-anak ya?