Zahra dan Jasmine , kakak beradik yang rasanya selalu saling kangen. Kalau udah ketemu maunya berdua saja sampai terkadang melupakan adiknya. Sama-sama hobi membaca. Sama-sama suka Smurf. Dan sama-sama memiliki cita-cita sebagai koki. Tapi yang terakhir ini sepertinya plagiatisme Jasmine yang muncul. Tapi tak apalah....nantinya pasti akan mumcul cita-citanya sendiri-sendiri.
Hobi mereka membaca. Terutama komik ilmu pengetahuan. Meskipun lucu dan kocak, tapi cukup memberikan pengetahuan yang memadai bagi mereka. Kali ini Pingu dan pamannya sedang membicarakan mengenai anak kembar. Maka mulailah mereka mengidentifikasi diri sebagai anak kembar. Dimana asal muasal ide mereka sehingga menganggap mereka kembar?
"Ma... muka ku mirip kan sama Jasmine?",tanya Zahra
"Mmmmm, iya", jawabku
"Bajuku banyak yang sama ama mba Zahra", timpal Jasmine.
"Ya. Ada beberapa yang sama. Tapi gak banyak".
"Rambutku dan rambut Jasmine lurus". Kata zahra.
"Jadi aku dan mba Zahra kebar ya, ma?".
Tinggal mamahnya yang menatap bingung. Darimana asal muasal membicarakan masalah kembar?
"Yang namanya kembar itu adalah mereka yang lahir di bulan, tanggal, hari, dan tahun yang sama. Zahra dan Jasmine sama gak lahirnya?"
Sepertinya mereka mulai berfikir keras. Mencoba mencari alasan untuk bisa dianggap kembar.
"Muka ku da mba Zahra mirip. Rambut sama. Baju banyak yang sama. Tidurnya bareng."
Jasmine mencoba berargumentasi atas pendapatnya. "Mamah melahirkan Jasmine dan Zahra juga".
"Iya, ma", kata zahra, "terus yang disebut anak kembar itu apa?".
"Anak kenbar itu berasal dari rahim mamah yang sama dan berasal dari telur yang sama", jelasku.
"HAH!!!! MAMAH!!! SEMBARANGAN... Masa dari telur. Emangnya binatang apa????"
Lho? "Jadi begini Jasmine...Mmm ya... yaudahlah", kataku.
Jumat, 01 Juni 2012
Rabu, 28 Maret 2012
Pakde ku ada dua.....
Lah ini anak-anak, udah sering dikasih tau kalau Mamahnya punya dua kakak tapi masih aja sering lupa. Yang satu namanya Pak De Bogi dan yang satu lagi namanya Pak De Adhi. Memang sih Pak De Adhi sudah almarhum jadinya mungkin agak sulit bagi anak-anak untuk menetapkan di memorinya ada dua pakde dari mamahnya. Kalau dari ayahnya? wuuiiiihhh banyak...
Nah, mumpung bulan Maret adalah bulan ketika Alm Pak De Adhi dilahirkan (tepatnya 11 maret) maka pergilah kami ke makam. Membersihkan makam yang sudah cukup lama tidak dibersihkan. Ajak anak-anak juga biar mereka selalu ingat dan biar mereka ikut membersihkan makam Pakde. Mumpung juga lagi long weekend.
Ternyata hari itu mentari sedang memancarkan sinarnya dengan penuh semangat. Untung saja kami membawa dua payung golf! Satu dipakai oleh bapak dan ibu, sedangkan yang satu lagi dipakai oleh anak-anak. Mereka tetap semangat mesti panasnya bukan alang kepalang. Membawa payung menuju makam sambil tertawa-tawa ceria. Wah, padahal 19 tahun yang lalu kami melalui jalan ini dengan kepala tertunduk, mata sembab, dan wajah yang basah oleh airmata. Padahal 19 tahun yang lalu puluhan orang mengiringi dan menangisi kepergiannya di makam ini.
Ah ternyata waktu berjalan begitu cepat. Saat ini justru keriangan anak-anak yang ada menuju 'rumah' Pakde Adhi....
Tetapi kami ingin anak-anak tau bahwa mereka punya dua pakde.
Sambil berdoa untuk pakde, anak-anak bersih-bersih makam. sikat sana sikat situ. Kira-kira jadi lebih bersih gak ya....
ah yaa setidaknya akan tertancap diingatan mereka bahwa mereka punya dua pakde dari mamah dan punya lima pakde dari ayah.
Dan satu pakde dari mama sudah mendahului mereka bahkan sebelum mereka lahir. Mudah-mudahan doa selalu mengalir untuk pakde Adhi dari mulut mereka. Aammmiiin....
**Lho Zahra mana? Ngumpet karena kepanasan....**
Nah, mumpung bulan Maret adalah bulan ketika Alm Pak De Adhi dilahirkan (tepatnya 11 maret) maka pergilah kami ke makam. Membersihkan makam yang sudah cukup lama tidak dibersihkan. Ajak anak-anak juga biar mereka selalu ingat dan biar mereka ikut membersihkan makam Pakde. Mumpung juga lagi long weekend.
Ternyata hari itu mentari sedang memancarkan sinarnya dengan penuh semangat. Untung saja kami membawa dua payung golf! Satu dipakai oleh bapak dan ibu, sedangkan yang satu lagi dipakai oleh anak-anak. Mereka tetap semangat mesti panasnya bukan alang kepalang. Membawa payung menuju makam sambil tertawa-tawa ceria. Wah, padahal 19 tahun yang lalu kami melalui jalan ini dengan kepala tertunduk, mata sembab, dan wajah yang basah oleh airmata. Padahal 19 tahun yang lalu puluhan orang mengiringi dan menangisi kepergiannya di makam ini.
Ah ternyata waktu berjalan begitu cepat. Saat ini justru keriangan anak-anak yang ada menuju 'rumah' Pakde Adhi....
Tetapi kami ingin anak-anak tau bahwa mereka punya dua pakde.
Sambil berdoa untuk pakde, anak-anak bersih-bersih makam. sikat sana sikat situ. Kira-kira jadi lebih bersih gak ya....
ah yaa setidaknya akan tertancap diingatan mereka bahwa mereka punya dua pakde dari mamah dan punya lima pakde dari ayah.
Dan satu pakde dari mama sudah mendahului mereka bahkan sebelum mereka lahir. Mudah-mudahan doa selalu mengalir untuk pakde Adhi dari mulut mereka. Aammmiiin....
**Lho Zahra mana? Ngumpet karena kepanasan....**
Transportasi Idaman
Begini nih perkataaan Ghifar kalo pulang sekolah, "Kereta,ma... kita ke stasiun". Lalu ketika mulai berbelok masuk ke kompleks, Ghifar akan protes berat, "loh kok belok? Kita ke stasiun, ma.....!!".
Nah lho, masa naik kereta mulu. Gak bosen apa?. Ini nih, gambaran Ghifar tentang kereta;
Ada transportasi favoritenya Ghifar. Yaitu bus. Kayak gimana ya Bus dalam imajinasi Ghifar .....
Bus nya penuuuuh banget kata Ghifar. Di jok belakang ada yang kosong. Tuh dia kepala tanpa badan. Artinya, belum ada penumpang yang duduk disitu. hehehe....
Nah yang ini adalah transportasi yang diidam-idamkan ghifar. Pengen banget naik ini. Tapi belum kesampeana. Duuuh kapan ya kita naik pesawat....
Nah lho, masa naik kereta mulu. Gak bosen apa?. Ini nih, gambaran Ghifar tentang kereta;
Ada transportasi favoritenya Ghifar. Yaitu bus. Kayak gimana ya Bus dalam imajinasi Ghifar .....
Bus nya penuuuuh banget kata Ghifar. Di jok belakang ada yang kosong. Tuh dia kepala tanpa badan. Artinya, belum ada penumpang yang duduk disitu. hehehe....
Nah yang ini adalah transportasi yang diidam-idamkan ghifar. Pengen banget naik ini. Tapi belum kesampeana. Duuuh kapan ya kita naik pesawat....
Senin, 19 Maret 2012
18 Maret 2001
"Kita ambil tol yang mana?" Tanya kakakku
"Lah....gak tauuuu", jawabku dengan lugas
"Ini aja kali ya?", tanyanya meminta persetujuanku.
"Mba, tau gak kalau ke TMII keluar di tol mana?" tanyaku pada perias yang duduk dikursi belakang.
Sambil menatapku dengan takjub ia berkata,"enggak tau,mba. Gak papa mba, masih ada waktu. Gak usah panik".
Aku menatap ke jalanan dan ke kakak ku. Dan melirik jam di dashboard. Jam 6! Berarti 3 jam lagih.
'Sampai dimana ini?'....
Oh, ternyata salah jalan. Baiklah, tarik napas panjang. Puter balik, ambil jalan normal yang bukan jalan tol. Mari mengulang jalan kearah semula tanpa masuk ke tol. Kembali kulirik dashboard! Jam 6.30!!
Sampailah di penginapan yang disediakan oleh Sasono Adiguno untuk pengantin.. Disinilah aku akan didandani untuk acara akad nikahku. Kok gelap? Kok dikunci? Lho kenapa ini? "Ya ampun, mba. Maaf sekali ya mba. Petugas yang megang kunci belum datang", kata karyawan Sasono Adiguno dari sebrang telpon.
Tergopoh-gopoh kami ke wisma PLN tempat para mempelai pria dan saudaranya menginap. Kehebohan yang ditambah dengan pertanyaan menghujan dari perias, "kita mau ngerias dimana?".
Aiiiih baru nyadar. Kenapa yang kayak gini belum disiapkan? Okeh, satu kamar dikosongkan oleh kekasih hati. Penghuni kamar, minggirlah kalian semua beserta barang-barang kalian.
Periasku yang baik itu tersenyum kearahku sambil memegang tanganku.
Tarik napas panjang, duduk manis dikursi riasan yang ternyata tidak tersedia kaca yang cukup besar. Tarik napas panjang lagi.... Titahkan kembali pada kekasih hati untuk mencari kamar yang punya.... Kaca! Masa negerias gak pakai kaca ya?
Jam 7 lewat dikit agak banyak, akhirnya proses riasan dan pemakaian baju pengantin dimulai.
"gak panik kan, mba?" tanya periasku.
"hah? Panik kenapa?". Memang sih ini hari pernikahan ku. Akad nikah dimulai jam 9. Tapi aku siap kok menghadapi acara akad nikah. Lahir batin siap! Jadi kenapa mesti panik.
Lalu perias itu tersenyum sambil mendadaniku dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Hampir jam 9. Dan riasan selesai. Maritnik (Mari Kita Nikah).....
"Naik apa kita ke Masjid?", Nah loh!! Kenapa sih pertanyaan dari perias selalu menghujam hati? Tapi inikan memang pertanyaan yang penting. Naik apa dari Wisma PLN yang ada diujung TMII ke Masjid Pangeran Diponegoro yang ada di tengah-tengah TMII. Kepala sedikit berdenyut, hati sedikit kebat kebit.
"Sebentar ya,mba. Telpon bagian transportasi dulu", kataku dengan manis. Setelah telpon sana-sini, kontak sana-sini akhirnya meluncurlah mobil kijang. Ehm... Jadi pake kebaya naik mobil kijang ya? Mana Daewoo?
Phew untunglah setelah itu Daewoo meluncur dengan indahnya dibelakang Kijang.... Jadi gak perlu menyingsingkan kain kebaya dong. Tapi rasanya perlu mengerenyitkan mata yang berminus 4. Apa pasal? Lensa Kontak ketinggalan dikamar.
Alhamdulillah...acara akad nikah berjalan lancar.Menangis? Waduh nanti riasan luntur... Hahahahaaaa
Hanya sedikit masalah saja. Wajah teman-teman tidak begitu jelas dipandangan sampai mereka berdiri didepanku dan memberikan ucapan selamat. Pada saat itu, barulah ketahuan siapa temanku yang datang.
Kucium dengan lembut tangan suamiku untuk pertama kalinya, di hari itu di tanggal 18 Maret 2001. Senyumpun mengembang (Dari siapa?). Lega karena akhirnya kami menjadi suami isteri. Senang karena telah ditunaikan sebagian sunah Rasul. Bahagia karena cinta kami dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Lega karena akhirnya aku bisa berdiri dan melamaskan kakiku dari kesemutan yang menggigit.
Alhamdulillah....
"Selamat ya,mba", kata periasku, "Kalau saya jadi mba, pasti saya udah nangis dari tadi"
"Masa iya, mba? Kenapa?"
"Lha iya mba, masa jam setengah delapan baru masuk kamar untuk ngerias. Kan akadnya jam 9. Makanya tadi saya tadi bilang ke mba supaya jangan panik".
Oalah...itu tokh makna panik baginya. Beda makna panik rupanya...
"Lah....gak tauuuu", jawabku dengan lugas
"Ini aja kali ya?", tanyanya meminta persetujuanku.
"Mba, tau gak kalau ke TMII keluar di tol mana?" tanyaku pada perias yang duduk dikursi belakang.
Sambil menatapku dengan takjub ia berkata,"enggak tau,mba. Gak papa mba, masih ada waktu. Gak usah panik".
Aku menatap ke jalanan dan ke kakak ku. Dan melirik jam di dashboard. Jam 6! Berarti 3 jam lagih.
'Sampai dimana ini?'....
Oh, ternyata salah jalan. Baiklah, tarik napas panjang. Puter balik, ambil jalan normal yang bukan jalan tol. Mari mengulang jalan kearah semula tanpa masuk ke tol. Kembali kulirik dashboard! Jam 6.30!!
Sampailah di penginapan yang disediakan oleh Sasono Adiguno untuk pengantin.. Disinilah aku akan didandani untuk acara akad nikahku. Kok gelap? Kok dikunci? Lho kenapa ini? "Ya ampun, mba. Maaf sekali ya mba. Petugas yang megang kunci belum datang", kata karyawan Sasono Adiguno dari sebrang telpon.
Tergopoh-gopoh kami ke wisma PLN tempat para mempelai pria dan saudaranya menginap. Kehebohan yang ditambah dengan pertanyaan menghujan dari perias, "kita mau ngerias dimana?".
Aiiiih baru nyadar. Kenapa yang kayak gini belum disiapkan? Okeh, satu kamar dikosongkan oleh kekasih hati. Penghuni kamar, minggirlah kalian semua beserta barang-barang kalian.
Periasku yang baik itu tersenyum kearahku sambil memegang tanganku.
Tarik napas panjang, duduk manis dikursi riasan yang ternyata tidak tersedia kaca yang cukup besar. Tarik napas panjang lagi.... Titahkan kembali pada kekasih hati untuk mencari kamar yang punya.... Kaca! Masa negerias gak pakai kaca ya?
Jam 7 lewat dikit agak banyak, akhirnya proses riasan dan pemakaian baju pengantin dimulai.
"gak panik kan, mba?" tanya periasku.
"hah? Panik kenapa?". Memang sih ini hari pernikahan ku. Akad nikah dimulai jam 9. Tapi aku siap kok menghadapi acara akad nikah. Lahir batin siap! Jadi kenapa mesti panik.
Lalu perias itu tersenyum sambil mendadaniku dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Hampir jam 9. Dan riasan selesai. Maritnik (Mari Kita Nikah).....
"Naik apa kita ke Masjid?", Nah loh!! Kenapa sih pertanyaan dari perias selalu menghujam hati? Tapi inikan memang pertanyaan yang penting. Naik apa dari Wisma PLN yang ada diujung TMII ke Masjid Pangeran Diponegoro yang ada di tengah-tengah TMII. Kepala sedikit berdenyut, hati sedikit kebat kebit.
"Sebentar ya,mba. Telpon bagian transportasi dulu", kataku dengan manis. Setelah telpon sana-sini, kontak sana-sini akhirnya meluncurlah mobil kijang. Ehm... Jadi pake kebaya naik mobil kijang ya? Mana Daewoo?
Phew untunglah setelah itu Daewoo meluncur dengan indahnya dibelakang Kijang.... Jadi gak perlu menyingsingkan kain kebaya dong. Tapi rasanya perlu mengerenyitkan mata yang berminus 4. Apa pasal? Lensa Kontak ketinggalan dikamar.
Alhamdulillah...acara akad nikah berjalan lancar.Menangis? Waduh nanti riasan luntur... Hahahahaaaa
Hanya sedikit masalah saja. Wajah teman-teman tidak begitu jelas dipandangan sampai mereka berdiri didepanku dan memberikan ucapan selamat. Pada saat itu, barulah ketahuan siapa temanku yang datang.
Kucium dengan lembut tangan suamiku untuk pertama kalinya, di hari itu di tanggal 18 Maret 2001. Senyumpun mengembang (Dari siapa?). Lega karena akhirnya kami menjadi suami isteri. Senang karena telah ditunaikan sebagian sunah Rasul. Bahagia karena cinta kami dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Lega karena akhirnya aku bisa berdiri dan melamaskan kakiku dari kesemutan yang menggigit.
Alhamdulillah....
"Selamat ya,mba", kata periasku, "Kalau saya jadi mba, pasti saya udah nangis dari tadi"
"Masa iya, mba? Kenapa?"
"Lha iya mba, masa jam setengah delapan baru masuk kamar untuk ngerias. Kan akadnya jam 9. Makanya tadi saya tadi bilang ke mba supaya jangan panik".
Oalah...itu tokh makna panik baginya. Beda makna panik rupanya...
Malam, Stasiun, Tangisan
Tiba didepan stasiun! Angkot ini akhirnya sampai juga didepan stasiun Cilebut. Segera aku turun dari angkot hijau ini dan disambut dengan tawa riuh dari seorang perempuan yang berdiri tepat didepan tempatku menjejakan kaki di tanah yang basah. Entah siapa. Bila Handphone yang ditempelkan dikupingnya bisa berbicara, pasti ia akan protes. Sekilas kulihat dandakan yang cukup apik darinya. Rambut sebahu tanpa poni. Wajah tanpa ulasan make up berlebih meski polesan lipstick merah menyala cukup mengganggu keharmonisan itu.
Kulangkahkan kaki ini dengan hati-hati di jalan masuk stasiun kereta. Di jam 7 malam, dengan rintik hujan yang menetes-netes diatas jilbabku, awan cukup gelap tanpa penerangan yang cukup dari bulan, bintang, ataupun lampu jalanan . Tanah yang berlubang-lubang cukup untuk membuat ranjau genangan air yang berwarna coklat. Baunyah cukup menusuk hidung. Hmmmm jangan-jangan bercampur dengan air got atau tumpukan sampah dari pedagang makanan dan buah-buahan. Yaiks! Aku menjinjit-jinjit menghindari ranjau itu meskipun sepatu boots kulit yang kukenakan rasanya cukup menghindari pertemuan antara kakiku dengan ranjau air itu.
Phew… akhirnya sampai didalam stasiun. Dan mataku kini sudah terbiasa dengan gelapnya malam tanpa penerangan dari bulan, bintan, maupun lampu stasiun. Dan kepalaku yang tanpa ditamengi dengan payung juga sudah terbiasa dengan tetasan rintik hujan. Tiket sudah kupegang. Rp 1.500.,! Sepadanlah dengan ranjau air , gelapnya suasana, dan tetesan air hujan.
Untung saja disebrang stasiun cilebut ada beberapa kios yang penerangannya cukup sampai ditempatku berjalan menuju peron yang beratap -- yang mudah-mudahan masih ada sisa bangku untukku. Kulangkahkan kaki ini secepat mungkin. Mataku mulai terbiasa dengan temaramnya suasana. Disisi kiriku beberapa pedagang yang mengangsurkan kerangjang dagangannya dijalanan tampak saling sapa dan membicarakan hasil penjualannya hari ini. Hmmm sepertinya hasilnya cukup untuk mengepulkan dapur mereka esok hari. Beberapa masih mencoba menawarkan dagangannya padaku. Aku menolak halus. Aduh! Bagaimana cara memilih dagangannya digelap seperti ini?
Langkahku semakin mendekati peron stasiun (yang beratap!). Berarti semakin dekat juga kepala dan badan ini untuk terhindar dari serbuan rintik hujan yang semakin kerap. Naungan atap peron cukup mengodaku untuk segera kesana. Semakin dekat, semakin kulebarkan langkah kakiku. Rasanya tidak tahan dengan kegelapan dan basahnya badan ini.
Ah! Ada tempat duduk tersisa. Utunglah! Tempat duduk yang terbuat dari rangkaian besi panjang tanpa cat cukup menghibur penatnya tubuhku. Aroma cilok dari pedagang diarah kananku menuntun mataku untuk memperhatikan kesibukannya melayani pembeli. Tapi tidak cukup menuntunku untuk mencicipi rasanya. Bau gengangan air didepan stasiun masih melekat dihidungku. Rasanya enggan memasukan makanan ditempat seperti ini. Persis disebelah kiriku termangu pedagang salak yang kalah ramai dengan pedagang cilok tadi. Ia asyik menghitung laba hari ini sambil sesekali menghitung jumlah salak dikeranjanngnya.
Dibelakangku berjajar kios-kios seukuran 2x3. Pedangang pulsa, ramuan herbal, Koran, buah, kue, gorengan, dan jepit rambut cukup membantu penerangan diperon stasiun. Tanpa mereka rasanya stasiun ini akan jadi sarang pocong dan hantu. Hiiiii…..
Rel kereta api yang berjarak kurang lebih 50meter dari tempatku duduk membuatku bisa memperhatikan keriuhan penumpang yang turun dari kereta. Disini lebih banyak penumpang yang turun daripada yang naik. Kurasa alasannya karena stasiun selanjutnya alah stasiun Bogor yang merupakan stasiun pemberhentian terakhir. Ramainya penumpang kereta dari arah Jakarta yang turun di stasiun ini meriuhkan para pedagang dari kios dibelakangku untuk mempromosikan dagangan mereka. Dan keriuhan makin bertambah bila yang turun adalah penumpang kereta ekonomi. Tapi akan berkurang bila yang turun adalah penumpang commuter line. “Ah, kalau penumpang komuter mah gak jajan. Uangnya abis buat beli tiket”, begitu alasan yang dikemukakan oleh pedagang.
Mataku kini lebih terfokus kearah kananku. Mencoba melihat-lihat arah kereta dari Bogor yang akan menuju Depok. Kemana gerangan kereta yang kunanti ini? TIba-tiba telingaku menangkap suara isak tangis perampuan. Tapi aku tidak berani menoleh kearah kiriku. Ah, bukannya disebelah kiriku ada pedagang salak? Aih… Mataku menatap sesosok pedangan salah yang ternyata elah berjalan melampaui aku menuju keluar station. Kini posisinya diganti oleh perempuan dengan isak tangis. Samakah dengan yang kemarin? Isakannya semakin keras. Semakin keras juga hatiku untuk menahan diri agar tidak menoleh kearahnya. ‘Huhu….huuuu…. bagaimana iniii….’begitu yang kudengar dari sela isakan tangisnya.
Aduh! Kalau kutengokan kepalaku kekiri apa yang akan terjadi? Haruskah aku menghiburnya? Mendengarkan keluhannya? Meredakan tangisannya?
Lalu terdengar suara lelaki menanyakan alasan perempuan itu menangis. Ini yang bisa kutangkap, “Saya diusir suami. Saya langsung pergi. Gak sempet ngapa-ngapain. Uang saja tidak bawa”. Wah…. Kok sama dengan alasan tangisan perempuan ditempat ini kemarin dan kemarin lagi? Apakah orang yang sama?
Ah… kereta kearah Jakarta datang. Segera kuberdiri menyambut tamu agung itu. Berjalan menuju kereta yang dalam hitungan detik akan berhenti distasiun ini. Kutatap kereta yang semakin mendekat dan kuberanikan hati untuk sedikit menatap perempuan yang terisak tadi. Ternyata perempuan yang berbeda dari yang kemarin dan kemarin lagi. Tapi perempuan yang kuihat ketika aku turun dari angkot. Perempuan yang tadi yang tawanya kuyakin akan diprotes oleh handphone yang menempel dikupingya. Kutabahkan hatiku untuk tidak bertanya ‘mengapa’ kepada perempuan itu. Isakannya cukup menampar dinding telingaku tapi tidak perasaanku. Rintik hujan lebih menggerakanku untuk segera berjalan menuju kereta. Segera kupercepat langkahku menuju kereta sebelum hatiku tergoda lebih jauh untuk berempati bahkan bersimpati padanya. Kehangatan rumah lebih menggodaku daripada keriuhan, kelembaban, bau tak sedap, dan tetesan air, dan isak tangis perempuan di stasiun ini.
Kamis, 01 Maret 2012
Buku Buka Baca
"Zahra....dimana kau? Mamah pulaaaang"
"Aku disini, Mah. Di kamar"
Bergegas aku menuju kamar. Kulongok ke dalam kamar ternyata ia sedang tiduran sambil asyik membaca.Baca apa ya? Ini dirumah kakeknya. Buku cerita dan majalahnya sepertinya tidak dibawa.
"Baca apa, Zahra?"
"Baca PAI (pendidikan agama islam)"
"Jasmineeeee..... Ayo turun. Saraapan dulu" Kataku setengah berteriak kepada Jasmine yg masih dikamarnya pada jam 7 pagi. Padahal udah mandi dan pakai baju sekolah lho..
"Iya mah... Tanggung"
"Jasmiiiineee ... Gak sarapan gak ada sekolah" ancam ku
"Iyaiya Maaaaaah. Aku turun." Lalu kudengar suara langkah Jasmine. Berjalan menuju tangga dan menuruni anak tangga. SAMBIL BACA BUKU.
Lagi-lagi aku setngah berteriak dengan suara sedikiiiiit dilembutkan supaya Jamsine tidak kaget, "Jasmine... Kalau lagi turun tangga jangan sambil baca buku. Tutup bukunya sekarang"
Bergegas Jasmine turun dan duduk dikursi, menghadap piring yang telah diisi makanan, dan tangan kiri memegang buku, tangan kanan memegang sendok. Menatapku denan penuh harap dan cemas, "... tanggung Ma... aku pengen tau apa kata paman tentang susu..."
Semanjak bisa baca buku, semua buku kakaknya dibaca. Dari komik doraemon, komik sains, sampai kkpk. Sepertinya ia pengen menghabiskan bacaan semua buku yg ada sebagai balas dendam karena dulunya hanya bisa melototi gambar disemua buku tanpa bisa dibaca.
Bagaimana dengan si bontot? Lihat dia lagi asyik melototi Bobo dan membolak-balik halaman sambil terseyum seolah mengerti isi majalah itu. "Ghifar...emangnya itu ceritanya tentang apa?".
Ghifar mendongak kearahku dan dengan spontan menjawab, "Gajah ini ingin main sama kucing. Dia bilang, 'kucing main yuuuk..'."
OooOh benarkah demikian? bedain bu, bi, be, bo saja belum bisa kok!
Bagaimanakah kejadian sebelum tidur? Masing-masing anak paling tidak membawa tiga buku. Pagi-pagi buku itu terhampar degan bebas dikasur dan dilantai.Mereka gak kapok bawa buku ke tempat tidur rupanya. Padahal dulu, sewaktu mereka masih ASI, sering banget ketiban buku yang dibaca mamahnya sambil nyusuin. 
Tapi ... whatever, Aku suka anak-anak suka membaca! Kata Zahra, "Mah, buku kan jendela dunia lho".
Selasa, 28 Februari 2012
UANG
Minat baca memang ada. Tapi bagaimana dengan penangkapan makna dari bacaaan? Ghifar yang berusia 4 tahun memang senang dibacakan buku oleh kakaknya yang berumur 6 tahun. Kali ini Ghifar memilih buku bejudul, AKu Sayang Bunda.Maka mulailah Jasmine membacakan buku tersebut.
Selesai dibacakan lalu ghifar menunjukkan buku tersebut padaku. “Mama, mau ini. Mobil”
Lhooooo inti ceritanya kan agar seorang anak tidak selalu minta dibelikan ini itu pada bundanya dan memahami bahwa memahami pemanfaatan uang yang tidak hanya untuk mainan.
Kenapa berakhir seperti ini??????
“Ma…aku mau beli maninan” Kata Ghifar.
“Ih, kan baru kemarin beli mainan” jawabku . Lalu kutambahkan, “kan kalau beli mainan perlu uang, Ghifar”.
“Mama gak punya uang? Coba lihat dompet mama”
Eiitts sembarangan , mau oprek-oprek dompet. Jelas saja tidak aku perbolehkan.
“Mama ada uang, tapi bukan untuk beli mainan.”
Lalu kulihat buku yang disodorkan ghifar padaku yang katanya mau membeli mobil seperti yang dimainkan oleh Syamil.
“Sini mama bacain lagi bukunya”. Lalu mulailah aku membacakan buku itu selembar demi selembar dengan menekankan pada perkataan bunda Syamil bhwa uang yang dimiliki tidak hanya untuk membeli maianan tetapi untuk banyak keperluan yang lain. Tapi Ghifar bersikeras untuk minta dibelikan mobil-mobilan seperti yang ada dibuku. Lengkap dengan remote control.
“Ghifar… kamu ngerti gak sih?”,
Jasmine langsung berkomentar mendengar percakapanku dengan Ghifar. Lalu disambung lagi dengan pertanyaan darinya, “Mah…. Memangnya mamah gak punya uang untuk beli mobil-mobilan? Uang Mamah tinggal sedikit?”
Yaah daripada berpanjang lebar kujawab saja dengan singkat, “Iya”.
“Ooooh gitu ya Ma” kata Jasmine sementara dibelakangnya Ghfar menangis-nangis minta dibelikan mobil-mobilan.
“Mamah bikin uang saja kalo gitu”
“heh? Mana bisa?”
“Mamah gak bisa? Aku bisa. Mamah punya kertas kan? Aku punya pinsil dank rayon. Nanti aku buat uang untuk mamah supaya uang mamah banyak. Jadi mamah bisa beli segalanya”
“yah kan beda sama uang yang berlaku di Negara kita, Jasmine…..”
“Maksud?????”, tanya Jasmine dengan bingung.
Lalu ia pun bergegas mengambil krayon dan pinsil. Kemudian meminta kertas. Lalu dipotong-potongnya kertas itu dan mengajak Ghifar untuk membantunya, “Ayo Ghifar, kita buat uang”
Yasudah lah daripada berisik denger tangisan Ghifar mendingan kubiarkan mereka membuat uang. Ada yang nilai nominalnya Rp 7.000,-, ada yang Rp 3.000,- ada yang Rp 1.000,- dan ada juga yang Rp 500,-
Biarin deh mereka berkreasi sendiri. Lumayan satu jam menyibukan diri dan berarti satu jam waktu untuk diriku sendiri
. Masalah menerangkan uang, ntar aja deh.
Minggu, 26 Februari 2012
Nikah sekali kok anaknya tiga....
Menyenangkan sekali membuka-buka album foto. beda rasanya dengan melihat foto di komputer. Nah, Jasmine senaaaang sekali lihat-lihat album foto dan memberikan komentar atas foto yang ia lihat. Seperti ini nih, "ini foto pernikahan mama sama ayah kan?"
Kulirik album foto itu dan kujawab ,"ya".
Dibolak-balik lagi album foto itu. Mungkin ingin merekan ingatan atas pernikahan yang tidak pernah ia datangi. hehe.... Ingatkan Jasmine pernah menangis karena tidak ada dia di foto pernikahan mamah dan ayah.
Lalu Jasmine bertanya lagi "Mamah nikah sama ayah berapa kali sih?"
Nahlo! kok nanyanya begitu?
"Ya sekali dong, emangnya kenapa?"
"Bener sekali? Kok mamah punya anak tiga?"
Wakwaaaaaaw..... Mesti jawab apa nih.
"Mamah nikah sama ayah sekali dan dari yang sekali itu punya 3 anak. Gitu".
"Aneh...."
Phew .
.untunglah perhatiannya kembali pada album foto yang lain.
Beberapa minggu kemudian ketika sedang mencari-cari VCD mana yang akan disetel, mata Jasmine tertumbuk pada VCD pernikahan kami.
"Ayah, ini cd apa?"
"Pernikahan ayah dan mamah"
"Ayah nikah sama mamah berapa kali?"
"Sekali"
"Kenapa ayah dan mamah punya anak 3?"
Kira-kira apa jawaban ayah........
Kulirik album foto itu dan kujawab ,"ya".
Dibolak-balik lagi album foto itu. Mungkin ingin merekan ingatan atas pernikahan yang tidak pernah ia datangi. hehe.... Ingatkan Jasmine pernah menangis karena tidak ada dia di foto pernikahan mamah dan ayah.
Lalu Jasmine bertanya lagi "Mamah nikah sama ayah berapa kali sih?"
"Ya sekali dong, emangnya kenapa?"
"Bener sekali? Kok mamah punya anak tiga?"
Wakwaaaaaaw..... Mesti jawab apa nih.
"Mamah nikah sama ayah sekali dan dari yang sekali itu punya 3 anak. Gitu".
"Aneh...."
Phew .
Beberapa minggu kemudian ketika sedang mencari-cari VCD mana yang akan disetel, mata Jasmine tertumbuk pada VCD pernikahan kami.
"Ayah, ini cd apa?"
"Pernikahan ayah dan mamah"
"Ayah nikah sama mamah berapa kali?"
"Sekali"
"Kenapa ayah dan mamah punya anak 3?"
Kerja Atau Ngajar?
Percakapan di stasiun dengan orang yang tidak dikenal. (Biasaaaaa sambil nunggu kereta yg sering telat)
"Mau kemana,mba?"
"kerja", jawabku
"Kerja dimana?"
"Bogor"
"Kok kerjanya siang?"
"Iya"
"Kerja dimana?"
Mengulang dengan segan, "Bogor"
"Iyaaaa.... maksudnya kerja diperusahaan apa?"
"Bukan perusahaan"
"Terus dimana dong". ... oposeeeeeh mau tauuu ajah cowok satu ini.
"Lembaga Pendidikan", jawabku singkat, padat, dan lugas.
"Jadi apa?"
"Guru"
"Ngajar?"
"Iyyyaa", intonasi menurun tanda tak semangat
"Oooooohhh ngajar yaaa..... Kirain kerja. Tadi katanya kerja!"
Dengan reflek aku menoleh ke si penanya. Menatapnya beberapa detik dengan tatapan takjub sekaligus penuh tanda tanya, lalu kubuka tas, mencari buku, membaca, dan menyibukan diri agar terlihat sibuk.
Lalu beberapa minggu kemudian. Sesuai dengan jadwal mengajar yang aku punya, berpamitan pada anak-anak. cium tangan, cipikacipiki, dan berdadah-dadahan. Lalu seperti biasa kuucapkan beberapa pesan, "Setelah makan siang bobo ya... Kalau tidak hujan boleh main diluar. Main sama mba dulu. Mama mau kerja."
lalu anakku yang berumur 6 tahun bertanya, "Mama mau kerja atau ngajar?"
keheningan beberepa detik pun terjadi.
Lalu kujawab, "Mama mau kerja ngajar"
"Mamaaaah, kan aku nanya.... mama sekarang ini mau berangkat kerja atau ngajar?"
"Ya mama kerjanya ngajar"
"Iya...tapi sekarang ini mama kerja atau ngajar"
"Mamah pekerjaannya ngajar"
"Mamaaaaaah.... Mamah kerja ATAU ngajar?"
Percakapan distasiun melintas dikepalaku. Lalu kujawab singkatm,"Mama mau ngajar"
Senyumpun mengembang diwjahnya. "Nah.... Kalau mamah ngajar boleh. Tapi mamah jangan kerja ya. Nanti pulangnya malam seperti ayah".
OooooooooO ternyata itu masalahnya. Kalau ngajar tidak pulang malam dan tidak nginep. Tapi kalau kerja, pergi pagi pulang malam dan kadang tidak pulang. Baiklah aku mengerti sekarang.
Jadi mengajar itu bukan bekerja lhooo ya.....Jangan lupa!
"Mau kemana,mba?"
"kerja", jawabku
"Kerja dimana?"
"Bogor"
"Kok kerjanya siang?"
"Iya"
"Kerja dimana?"
Mengulang dengan segan, "Bogor"
"Iyaaaa.... maksudnya kerja diperusahaan apa?"
"Bukan perusahaan"
"Terus dimana dong". ... oposeeeeeh mau tauuu ajah cowok satu ini.
"Lembaga Pendidikan", jawabku singkat, padat, dan lugas.
"Jadi apa?"
"Guru"
"Ngajar?"
"Iyyyaa", intonasi menurun tanda tak semangat
"Oooooohhh ngajar yaaa..... Kirain kerja. Tadi katanya kerja!"
Dengan reflek aku menoleh ke si penanya. Menatapnya beberapa detik dengan tatapan takjub sekaligus penuh tanda tanya, lalu kubuka tas, mencari buku, membaca, dan menyibukan diri agar terlihat sibuk.
Lalu beberapa minggu kemudian. Sesuai dengan jadwal mengajar yang aku punya, berpamitan pada anak-anak. cium tangan, cipikacipiki, dan berdadah-dadahan. Lalu seperti biasa kuucapkan beberapa pesan, "Setelah makan siang bobo ya... Kalau tidak hujan boleh main diluar. Main sama mba dulu. Mama mau kerja."
lalu anakku yang berumur 6 tahun bertanya, "Mama mau kerja atau ngajar?"
keheningan beberepa detik pun terjadi.
Lalu kujawab, "Mama mau kerja ngajar"
"Mamaaaah, kan aku nanya.... mama sekarang ini mau berangkat kerja atau ngajar?"
"Ya mama kerjanya ngajar"
"Iya...tapi sekarang ini mama kerja atau ngajar"
"Mamah pekerjaannya ngajar"
"Mamaaaaaah.... Mamah kerja ATAU ngajar?"
Percakapan distasiun melintas dikepalaku. Lalu kujawab singkatm,"Mama mau ngajar"
Senyumpun mengembang diwjahnya. "Nah.... Kalau mamah ngajar boleh. Tapi mamah jangan kerja ya. Nanti pulangnya malam seperti ayah".
OooooooooO ternyata itu masalahnya. Kalau ngajar tidak pulang malam dan tidak nginep. Tapi kalau kerja, pergi pagi pulang malam dan kadang tidak pulang. Baiklah aku mengerti sekarang.
Jadi mengajar itu bukan bekerja lhooo ya.....Jangan lupa!
Rabu, 15 Februari 2012
Hutang Atau Sedekah?
Mana yang lebih baik memberikan hutang atau sedekah?
Saya pernah melirik kebuku yang -saya cuma asyik baca sinopsisnya- hutang lebih baik daripada sedekah. Hmm saya sebenarnya penasaran dengan isi buku itu. Ntar deh mau hunting di Gramedia. soalnya waktu mau beli itu, klakson penjemput sudah keburu berbunyi. Nah, sekarang mending dari sudut pandang yunniaInna saja dulu... *ehm*
Kenapa ya hutang lebih oke daripada sedekah. Kan katanya sedekah penolak bala.Pernah gak merasakan ketika ada seseorang ditagih pembayaran hutang, lalu ia mengelak, melengos, menolak, bahkan mencak-mencak.
Pernah ada seorang teman yang meminjamkan uang sebesar Rp 100.000,00 pada seorang temannya yang dirumahnya ada 2 mobil, satu motor, bangunan dua tingkat, dan luas bangunan lebih dari 100m2. Tapi entah kenapa setiap kali ditagih ia selalu mengelak. Nanti ya, besok ya, oh iya lupa, ya iya iya, duh segitu aja ditagih, bulan depan ya lagi cekak nih, yaaah nagihnya pas tengah bulan sih kan uangnya udah abis, dan lain sebagainya. Yang pada akhir cerita teman saya OGAH naagih hutangnya ke orang tersebut. Ih, mana tahan nagih hutang Rp 100.000,00 tapi susahnya minta ampun. capede...
Ada lagi nih, hutangnya gak sampe bilangan selembar uang kertas berwarna merah yang bergambar gedung DPR. Pertama ditagih alasannya karena gak pernah bisa ketemu, ditagih lagi alasannya gak ada recehan, ditagih lagi alasannya gak punya duit, ditagih lagi alasannya uangnya abis, ditangih lagi diam, ditagih lagi tak bersuara. Ya udah males ah nagih lagi. Anggap aja sedekah (eh tapi sedekah kan untuk orang miskin yaaa)
Yang hutangnya "cuma" segitu mungkin alasannya gak mau bayar: lah cuma segitu aja kok ditagih. medit amat sih. Bagaimana kalau hutangnya jutaan?
Alasan gak bisa bayar pasti lebih banyak dan lebih masuk akal dong ya... Seperti belum ada uang, lagi gak ada uang, uang udah abis, tidak ada uang , dan lain-lain. Ada juga nih yang sampe marah-marah: ya ampun tega banget, atau saya kan gak punya uang entar aja napa sih?, ATAU ya udah deh entar juga dibayar kok! Takut amat sih gak dibayar, ATAU saya kan gak punya uang kok ditagih-tagih terus sih?!
Nah lho! Galakan yang punya utang. Bahkan ketika jumlah hutang sudah dikurangi dan dikasih keringanan pencicilan pembayaran , tetap marah-marah. Lho lho lho...
Mungkin kalau yang berhutang adalah orang yang tidak mampu , yang gajinya 1,8 (gajian tanggal 1, habis tanggal 8), penghutang akan lebih menerima penunggakan pembayaran. Tapi bagaimana kalau yang berhutang adalah orang mampu? Punya mobil, motor, masih bisa jalan-jalan tiap weekend, masih bisa belanjabelanji, masih bisa kesana-kesini. Gimana perasaan penghutang?
Nah, mungkin untuk orang yang dengan kategori terkhir ini hutang lebih baik dari pada sedekah lebih tepat nih! Nah!
Saya pernah melirik kebuku yang -saya cuma asyik baca sinopsisnya- hutang lebih baik daripada sedekah. Hmm saya sebenarnya penasaran dengan isi buku itu. Ntar deh mau hunting di Gramedia. soalnya waktu mau beli itu, klakson penjemput sudah keburu berbunyi. Nah, sekarang mending dari sudut pandang yunniaInna saja dulu... *ehm*
Kenapa ya hutang lebih oke daripada sedekah. Kan katanya sedekah penolak bala.Pernah gak merasakan ketika ada seseorang ditagih pembayaran hutang, lalu ia mengelak, melengos, menolak, bahkan mencak-mencak.
Pernah ada seorang teman yang meminjamkan uang sebesar Rp 100.000,00 pada seorang temannya yang dirumahnya ada 2 mobil, satu motor, bangunan dua tingkat, dan luas bangunan lebih dari 100m2. Tapi entah kenapa setiap kali ditagih ia selalu mengelak. Nanti ya, besok ya, oh iya lupa, ya iya iya, duh segitu aja ditagih, bulan depan ya lagi cekak nih, yaaah nagihnya pas tengah bulan sih kan uangnya udah abis, dan lain sebagainya. Yang pada akhir cerita teman saya OGAH naagih hutangnya ke orang tersebut. Ih, mana tahan nagih hutang Rp 100.000,00 tapi susahnya minta ampun. capede...
Ada lagi nih, hutangnya gak sampe bilangan selembar uang kertas berwarna merah yang bergambar gedung DPR. Pertama ditagih alasannya karena gak pernah bisa ketemu, ditagih lagi alasannya gak ada recehan, ditagih lagi alasannya gak punya duit, ditagih lagi alasannya uangnya abis, ditangih lagi diam, ditagih lagi tak bersuara. Ya udah males ah nagih lagi. Anggap aja sedekah (eh tapi sedekah kan untuk orang miskin yaaa)
Yang hutangnya "cuma" segitu mungkin alasannya gak mau bayar: lah cuma segitu aja kok ditagih. medit amat sih. Bagaimana kalau hutangnya jutaan?
Alasan gak bisa bayar pasti lebih banyak dan lebih masuk akal dong ya... Seperti belum ada uang, lagi gak ada uang, uang udah abis, tidak ada uang , dan lain-lain. Ada juga nih yang sampe marah-marah: ya ampun tega banget, atau saya kan gak punya uang entar aja napa sih?, ATAU ya udah deh entar juga dibayar kok! Takut amat sih gak dibayar, ATAU saya kan gak punya uang kok ditagih-tagih terus sih?!
Nah lho! Galakan yang punya utang. Bahkan ketika jumlah hutang sudah dikurangi dan dikasih keringanan pencicilan pembayaran , tetap marah-marah. Lho lho lho...
Mungkin kalau yang berhutang adalah orang yang tidak mampu , yang gajinya 1,8 (gajian tanggal 1, habis tanggal 8), penghutang akan lebih menerima penunggakan pembayaran. Tapi bagaimana kalau yang berhutang adalah orang mampu? Punya mobil, motor, masih bisa jalan-jalan tiap weekend, masih bisa belanjabelanji, masih bisa kesana-kesini. Gimana perasaan penghutang?
Nah, mungkin untuk orang yang dengan kategori terkhir ini hutang lebih baik dari pada sedekah lebih tepat nih! Nah!
Senin, 13 Februari 2012
Aku Perempuan....
Hari ini pakai kemeja biru kotak-kotak dan jeans, plus kerudung biru.Jasmine, "mamah terlihat tomboy deh".... haha... Mana tomboy nya ya?
Kemarin teman Jasmine berlari-larian bersama anak lelaki. dan sesekali mempraktekan ilmu tendangan dan pukulannya. Kata Jasmine, "Mah... ternyata Syahda itu tomboy lho...."
Beberapa hari yang lalu Jasmine bermain bola bersama Ghifar dan Zahra. Satu tendangan menghasilkan gol dari Jasmine, maka Ghifar pun kalah. Yang kemudian diikuti dengan tangisan dari Ghifar karena gawangnya kebobolan gol. Lalu kata Jasmine, 'Ma....aku jago ya nendang bolanya. Aku tomboy ya?"
Semester lalu Zahra mengkuti les tekwondo. Dengan bangganya memamerkan teknik tendangan dan baju putih tekwondonya. Lalu komentar Jasmine, "Mah...sepertinya mbak Zahra tomboy ya?". Bahkan ketika guru biola Jasmine menanyakan apakah kakaknya ingin berlatih musik dengan sigapnya Jasmine menjawab, "Mba Zahra itu tomboy. Dia suka tekwomdo, bukan musik".
Bahkan ketika Ghifar terkadang ikut membantuku didapur (aka: n g e r e c o k i n) Jasmine seringkali heran. "Mah, Ghifar itu kan laki-laki. Kenapa dia suka bantuin mamah di dapur sih?"
hmm....jadi berapa takaran untuk menjadi perempuan, lelaki , dan tomboy?
Oalah Jasmine. Dimana sih ukuran tingkat ketomboyan itu?
Kemarin teman Jasmine berlari-larian bersama anak lelaki. dan sesekali mempraktekan ilmu tendangan dan pukulannya. Kata Jasmine, "Mah... ternyata Syahda itu tomboy lho...."
Beberapa hari yang lalu Jasmine bermain bola bersama Ghifar dan Zahra. Satu tendangan menghasilkan gol dari Jasmine, maka Ghifar pun kalah. Yang kemudian diikuti dengan tangisan dari Ghifar karena gawangnya kebobolan gol. Lalu kata Jasmine, 'Ma....aku jago ya nendang bolanya. Aku tomboy ya?"
Semester lalu Zahra mengkuti les tekwondo. Dengan bangganya memamerkan teknik tendangan dan baju putih tekwondonya. Lalu komentar Jasmine, "Mah...sepertinya mbak Zahra tomboy ya?". Bahkan ketika guru biola Jasmine menanyakan apakah kakaknya ingin berlatih musik dengan sigapnya Jasmine menjawab, "Mba Zahra itu tomboy. Dia suka tekwomdo, bukan musik".
Bahkan ketika Ghifar terkadang ikut membantuku didapur (aka: n g e r e c o k i n) Jasmine seringkali heran. "Mah, Ghifar itu kan laki-laki. Kenapa dia suka bantuin mamah di dapur sih?"
hmm....jadi berapa takaran untuk menjadi perempuan, lelaki , dan tomboy?
Oalah Jasmine. Dimana sih ukuran tingkat ketomboyan itu?
Guooblloog! BelanjaKokDiInternet
Guooblloog! BelanjaKokDiInternet
Tau gak ada tukang bakso enak di stadela? Stasiun Depok Lama? Biasanya sambil nungguin suami yang datang dari arah Jakarta, aku makan bakso disitu. Namanya entah apa. Ada hiburan tambahan selain TV, yaitu koran. Bukan Kompas atau Tempo yang jelas. Tapi Warta Kota. Lumayan lah.... Tak ada teman ngobrol, koran jadi teman.
Dan di tempat bakso itu pula aku baru tahu kalau acara famili 100 diadakan lagi. Pertanyaan yang diajukan standar aja, nyari jawabannya yang sulit.
Nah, pertanyaannya adalah: Dimana tempat berbelanja yang enak? Gampang tokh pertanyaannya. Yang sulit adalah menebak jawaban dari orang-orang yang diinterview.
Jawaban pertama, kedua, ketiga, bisa dilalui dengan mulus. Sekarang udah mulai banyak yang salah. Seoran peserta menjawab :INTERNET. Nah! pembawa acara belum memberikan jawaban. Tapi beginilah respon dari pedagang bakso dan pembeli bakso:
"Guuooooobbblllooog!!! Belanja kok di internet"
Phew.... komentarnya kok mengganggu konsentrasiku makan bakso ya.... udah hampir ketelen padahal.
Lalu apa jawaban dari pembawa acara? "tet tot....jawaban salah. Ternyata menurut responden internet bukan tempat belanja yang nyaman"
Ups... mulai lagi deh komentar pemirsa di warung bakso keluar. "TOLOL banget sih tu orang. Masa belanja di internet!Itu namanya pinter tapi goblog"
Lalu ditimpali lagi dengan yang lain, "Tuh kan cuma dikit nilainya.Wong belanja kok di internet......"
Yang lan pun semakin semangat menimpali, " ada juga belanja di WARNEEEET..... Di warnet kan bisa beli minuman.Di internet mana bisa?! DUasssaaAar".
Wew..... Untunglah baksonya enak. Jadi komentar apapun dari pemirsa diwarung, rasanya tidak bisa menahan bakso ini untuk masuk ke kerongkongan ku....
Tau gak ada tukang bakso enak di stadela? Stasiun Depok Lama? Biasanya sambil nungguin suami yang datang dari arah Jakarta, aku makan bakso disitu. Namanya entah apa. Ada hiburan tambahan selain TV, yaitu koran. Bukan Kompas atau Tempo yang jelas. Tapi Warta Kota. Lumayan lah.... Tak ada teman ngobrol, koran jadi teman.
Dan di tempat bakso itu pula aku baru tahu kalau acara famili 100 diadakan lagi. Pertanyaan yang diajukan standar aja, nyari jawabannya yang sulit.
Nah, pertanyaannya adalah: Dimana tempat berbelanja yang enak? Gampang tokh pertanyaannya. Yang sulit adalah menebak jawaban dari orang-orang yang diinterview.
Jawaban pertama, kedua, ketiga, bisa dilalui dengan mulus. Sekarang udah mulai banyak yang salah. Seoran peserta menjawab :INTERNET. Nah! pembawa acara belum memberikan jawaban. Tapi beginilah respon dari pedagang bakso dan pembeli bakso:
"Guuooooobbblllooog!!! Belanja kok di internet"
Phew.... komentarnya kok mengganggu konsentrasiku makan bakso ya.... udah hampir ketelen padahal.
Lalu apa jawaban dari pembawa acara? "tet tot....jawaban salah. Ternyata menurut responden internet bukan tempat belanja yang nyaman"
Ups... mulai lagi deh komentar pemirsa di warung bakso keluar. "TOLOL banget sih tu orang. Masa belanja di internet!Itu namanya pinter tapi goblog"
Lalu ditimpali lagi dengan yang lain, "Tuh kan cuma dikit nilainya.Wong belanja kok di internet......"
Yang lan pun semakin semangat menimpali, " ada juga belanja di WARNEEEET..... Di warnet kan bisa beli minuman.Di internet mana bisa?! DUasssaaAar".
Wew..... Untunglah baksonya enak. Jadi komentar apapun dari pemirsa diwarung, rasanya tidak bisa menahan bakso ini untuk masuk ke kerongkongan ku....
Rabu, 08 Februari 2012
Perasaanku gak enak...
Yup... hari ini janji mau meng-creambath rambut Zahra. Krim untuk creambath sudah masuk dikulkas sejak siang. Tinggal nunggu Zahra pulang sekolah.
"tin!" suara klakson mobil jemputan menandakan Zahra sudah sampai rumah. Alhamdulillah.
"Maaaaah..... Udah beli obat creambath kan?"
haha.... ini dia pertanyaan yang diajukan sejak hari Senin.
"udah..." jawabku.
"Nanti dulu ya Mah.... aku lapar"
Baiklah..kuteruskan saja browsing , surfing, and eating... hehehe...
Kulirik Jam sudah menunjukan pukul lima. Waduh kapan kelarnya creambath kalau gak dimulai sekarang? Hyaaa.... Zahra malah asyik makan rice bubble.
'Ayo Zahra...."
Heehehehehhheeeee...... Senyumnya menandakan ia siap untuk dicrembath. Baiklah salon dadakan segera dibuka disini. Kuingat-ritual yang biasa dijalankan oleh para kapster di salon langgananku. Okeh... Mari mlai ritual itu.
Selesai keramas, kupijat dengan lembut kepala Zahra. Lalu kubebat dengan handuk yang telah di rendam dengan air hangat. "Tunggu 15 menit ya..." ucapku.
Wah kalau disambi surfing gak terasa lho waktu berjalan dengan cepat..... Jam 6 sudah sekarang.
Segera kugiting Zahra menuju kamar mandi. Hmmmm wangi segar krim ini enaaak sekali. Nyaman dan membuat rileks.
"Enak ya Zahra... Lembut bangetdeh jadi rambutnya. Wangi lagi.."
"Iya Ma", kata Zahra, "Tapi perasaanku gak enak deh ma"
Aku menaikan alis. "hah! gak enak kenapa? Kenapa perasaan Zahra gak enak?"
"Itu mah......aku belum sholat ashar"
astagfirullahal adzim.... 5 menit lagi waktu maghrib datang. Segera kuselesaikan basuhan dikepalanya. "aduh Mamah kira udah sholat disekolah.."
Awalnya mau marah sama Zahra karena belum melaksanakan sholat Ashar. Tapi di hati ini perasaan bangga, haru, dan senang melebihi segalanya. Alhamdulillah, putri kecilku sudah mulai merasakan perasaan tidak enak meninggalkan sholat, perasaan tidak nyaman karena tidak beribadah kepada Allah. Alhamdulillah ya Allah.... Mudah2an rasa itu tetap adan dan selalu ada didalam hatinya. Aammmiin.....
Segera kukeringkan badannya dan kubantu memakaikan mukena. Sholat kilat pun dimulai.. Tak apalah sholatnya kali ini kilat... :) karena tak lama ia mengucapkan salam, terdengar suara adzan maghrib......
phew....
Anakku Rezekiku
Anak itu Rezeki
Inilah kisah yang membuatku merasa bahwa Allah memberikan rizki pada umatNya. Bahkan ketika rezki itu tidak dianggap sebagai rezki. Menikah selama bertahun tahun. Tahun pertama dilalui tanpa anak. So far so good. Tahun kedua kembali tanpa kehamilan Rumah mulai terasa sepi. Tahun ketiga, mari ke dokter kandungan. Tahun keemp at, alhamdulillah hamil tapi keguguran dibulan ketiga. Tahun kelima dijalani dengan terapi ke terapi, tanpa hasil. Tahun kelima dimulailah program bayi tabung, hamil selama dua bulan. Lalu kembali hamil selama 4 bulan. Lalu hamil lagi selama 6 bulan. Tapi tanpa ada bayi ditenah-tengan mereka. Lalu tak ada kehamilan lagi. Rumah mulai terasa besaaaar, seppiiii, dan sunyi. Berkali-kali program bayi tabung tidak membuahkan hasil. Lalu kembali hamil.... Setelah menunggu selama 9 tahun, akhirnya ada bayi ditengah-tengah mereka. Alhamdulillah.
Bisakah dibayangkan penantian, harapan, dan biaya yang dikeluarkan?
Oke kalai itu kurang menyentuh. Bagaimana dengan sorang teman yang sudah berusaha selama 10 tahun, ke berbagai ahli kandungan. Berbagai terapi yang dijalani tanpa hasil. Lalu dengan keadaan seorang teman yang berusaha sampai ke Singpur, Hongkong tetap tanpa hasil. Meskipun telah berusaha selama 11 tahun. Juga dengan seorang teman yang pada tahun ke-9 akhirnya menyerah dan tidak lagi melakukan terapi apapun. Dengan perubahan berat badan dan kemulusan wajah karena berbagai terapi, tidak ada hasil yang diharapkan.
"Hah!!! Hamil lagi? Bukannya baru aja lahiran ya?"
Aduuuuh,.... kok beda ya sama tanggapannya atas kehamilan anak pertama. Gamang jadinya. Mual, muntah, pusing, kram, segalanya menyatu sudah. Ditambah komentar orang-orang yang secara implisit atau eksplisit atas kehamilanku ini.
Oke oke.... baiklah. Anakku yang terakhir berumur 9 bulan. Dan kini aku hamil lagi. So what gitu loh.... Aku kan punya suami. Hmmm.....
"Yang sabar dan kuat ya Na...", kata seorang sahabatku sambil memeluk diriku.
Waduh...memangnya terlihat sedihkah diriku dengan kehamilan ini? Terlihat kecewakah? Mana mungkin aku menyedihi apa yang halal bagiku, apa yang seharusnya diriangi oleh para ibu dan bapak, apa yang seharusnya dinanti oleh setiap pasangan.
Kini anakku telah berumur 4 tahun. Pintar, lucu, menggemaskan, ngangeni. Dan ia menjadi satu-satunya anak lelaki dirumah ini. Menjadi sahabat akrab ayahnya Menjadi penambah kebahagaiaan, keramaian, dan keceriaan.
Lalu seorang teman datang. "Mba...dulu gimana perasaanya ketika hamil lagi padahal Jasmine masih bayi?". Kujawab dengan senyum. Gundahkah dia? Benar! Dia sedih karena bayinya masih berumur 8 bulan dan kini hamil lagi. Okeh...aku tahu, tetangga membincangkan, teman membicarakan, saudara bertanya.
"Terima semuanya,mba. Jangan pedulikan apa kata orang. Hamil kan ada suaminya. Kenapa mesti memusingkan perkataan orang?"
Dijawabnya lagi, "Tapi...banyak yang bilang apa gak kasihan sama bayinya?"
Aduuuhh.... siapa yang gak sayang sama bayi, sama bayi sendiri, sama anak sendiri? tapi kalau sudah dikasih sama Allah SWT, masa mau ditolak? Pencegahan sudah. Tapi kalau ternyata tidak berhasil, mau bilang apa? mau marah-marah? Kasihan dong bayi yang diperut kan....
Lalu, nikmat manakah yang akan engkau dustakan?, firman Alah SWT kepada umat manusia.
Manusia memang ada-ada aja yaaaa.... ketika dikasih anak malah sedih. Padahal banyak juga lho yang pengen punya anak. Jadi, mendingan Alhamdulillah atas segala rezki yang telah Allah SWT berikan.
Alhamdulillah....
Jumat, 03 Februari 2012
BBM = BENAR BENAR MENGASYIKAN
Mata sesekali melirik ke bb , sambil melirik bacaan Jasmine. Kalau ada kesalahan, tinggal berdehem maka Jasmine akan segera mengulangi bacaaannya. Gimana cara mengajari seperti ini ya? Cukup keren gak ya? Hehehe……
Sekerang giliran Zahra untuk membaca. Maka kuperintahkan Zahra untuk mengambil bukunya sementara Jasmine mengerjakan tugas yang lain. Tiba-tiba, aku terhenyak dengan perkataan Zahra, “Mah, bbm nya matiin dong. Bilang sama temen mamah kalo mamah lagi temenin anak-anak belajar…”
O ow…. Terperangah. Terpana. Shock. Ehm! Tentu saja. Bukan sekali ini saja sebenarnya protes Zahra mampir didiriku. Beberapa kali ia protes atas keberadaan sebuah benda yang bernama BB ditanganku. Tapi kenapa ya , kok nyandu banget sih nih BB ditangan!
Kemarin dulu di Taxi Zahra berkomentar, “Ah Mamah bb-an melulu. Bosan tau…” . Eits…bukan mamah dong kalau gak bisa ngeles. Jelasku pada Zahra, “Mamah kan perlu tau ayah ada dimana. Takutnya ayah udah pulang duluk dan gak bisa masuk rumah”. Zahra pun langsung memaklumi.
Yang protes Cuma Zahra? Coba lihat nih protesnya Ghifar, si ganteng yang berumur empat tahun. “Mamah,taro”, protesnya sambil mengambil BB ku dan menaruhnya diatas meja. Aku tidak bisa berkata banyak kecuali menatap gambar yang tengah dibuatnya diatas buku gambar. “Niiih lihat, gambarku. Bagus kan?”. Dengan senyum selebar mungkin, aku pun memuji hasil gambarnya berupa orang yang sedang berlari mengejar layang-layang dengan latar belakang rumah, pepohonan, dan langit biru. Tak lama kemudian kami pun tenggelam dalam percakapan mengenai gambar itu. Ternyata, more lively than chatting with my friends via bbm. Well, it’s nice. Awesome.
Terus, gimana dengan anak keduaku yang bernama Jasmine. Hmmm tidak kalah protesnya dengan kakak dan adiknya. Ia pun melakukan unjuk rasa atas aksi bbm-an ku. Ia selalu asyik dengan bacaaanya sampai-sampai aku pun didongengi buku cerita. Maka ketika ia sedang mendongengi cerita kepadaku, interupsi suara bip! masuk kegendang telingaku. Membuyarkan konsentrasi atas dongengnya dan koreksian atas bacaannya. Clikclikclik…. Aku pun membalas bbm sahabat. “ Iiiiih Mamaaaaaaah …. Mau dibacain gak sih? Telponnya taro dong!”. Yiiiihaaaa…. Manisnya teguran itu. Maka tersingkirlah BB dan masuklah dongeng Jasmine kedalam jiwa dan ragaku.
Hanya segitu? Hanya anak-anak saja yang protes. Ha! Ternyata tidak. Suami tersayang memang tidak sefrontal anak-anak dalam memprotes keberadaan BB ditangan dan dihatiku. Tapi niiihhh….sempat satu minggu BB rusak. Tidak ada sinyal apapun kecuali telpon dan sms. Itupun tanpa suara. Jadi entah kapan ada sms dan telpon masuk, aku tidak pernah menyadarinya. Lalu tiba-tiba kalimat yang menyentakan kalbu pun datang, “Jasmine,Asyik ya BB mamah rusak. Jadi mamah gak sibuk sama BBnya…” Oaaalllaahhh…. Ternyata begitu ya kelakuan diriku. Menginterupsi acara keluarga dan kebersamaan keluarga dengan BB. Hahahhaa…. Baiklah.
Tapi sampai saat ini, BB yang sehat segar bugar, telah kembali kepangkuanku. Enak kan balik lagi gaul dengan teman-teman didunia maya. Cuma sebentar doang kok lihat BB dan membalas BB. Kenapa sih kok pada ribut banget ya?
Dengan BB dikantong jalan-jalan sore bersama anak-anak pun masih bisa dilakukan. Sampai akhirnya aku berjumpa dengan seorang teman ditaman bermain perumahanku. Saling tegur dan sapa pun tak terelakan. Obrolan ringan mengalir lancar. Sssst….apalagi dia temanku di BBM. Jadi meskipun tinggal berjauhan rasanya akrab dan dekat sekali. Tapi gak berapa lama ia asyik dengan klikklikklik BB nya. Aku terdiam. Selesai klikklilklik kami pun berbicara lagi. Sampai jeda cukup panjang yang cukup membuatku beranjak meninggalkan bangku taman dan memilih berlari mengejar layangan. Phew….Akhirnya bisa bebas dari Mrs.klikklikklik. Enak aja aku dicuekin. Huh! Astaga…!!! Jangan-jangan itu yang dirasakan anak-anak ya?
Langganan:
Komentar (Atom)













